Setelah 736 tahun, Akhirnya Arca Joko Dolog Disucikan Kembali

Rudy Hartono - 22 November 2025

SR, Surabaya – Ada yang berbeda ketika mendatangi kawasan arca Joko Dolog, Jalan Taman Apsari Surabaya,Kamis (20/11/2025). Tampak belasan umat Hindu dari Bali duduk rapi di sana diiringi lantunan mantra dipimpin pandita, mengikuti upacara penyucian arca bertajuk Pasopati Guru Piduka.

Kegiatan dimulai sejak pukul 16.00 WIB. Diawali dengan caru, yakni upacara yang disebut juga Bhuta Yadnya bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam dan sesama makhluk hidup.

Dilanjutkan dengan rangkaian upacara lainnya yang berlangsung hingga pukul 19.00 WIB. Selanjutnya diakhiri pemberian air suci dan persembahan tumpeng hingga buah ke para umat.

Pegiat budaya Iwan Agung Prasetyo menyebut, Pasopati Guru Piduka merupakan upacara penyucian sekaligus tolak bala, menyeimbangkan energi alam bawah dan alam atas.

“Acaranya tadi dari menetralkan wilayah, setelah itu melakukan caru yang termasuk persembahan ke mahluk alam bawah ada sesuatu yang ditanam disembelih. Intinya kita memohon kepada alam atas dan alam bawah supaya bersinergi,” ujarnya di sela acara.

Pelibatan umat hindu dalam upacara penyucian juga punya makna khusus. Iwan mengatakan, meski arca mahasokbhya cenderung merujuk ke Budha, namun dari sejarah ternyata memiliki kaitan dengan Hindu. Dimana arca Joko Dolog dikaitkan dengan Raja Kertanegara juga dikenal dengan nama atau gelar keagamaan Sri Jiyana Syiwa Bajra, yang berperan dalam menyatukan agama Hindu aliran Syiwa dan Buddha ke dalam aliran Tantrayana.

“Memang ini (upacara) dilakukan secara Siwa Budha, dan untuk di Bali, Siwa Budha juga masih lestari, jadi kadang di pura juga harus diresmikan sesusai Siwa Budha sama seperti di sini,” jelasnya.

Bicara soal ritual bali maka tak lepas dari sesajen atau persembahan yang biasa disebut banten. Atas hal ini Pandita Hindu Bali, Kardinal Putu Sidarta menjelaskan,  pihaknya menggunakan beberapa macam banten, yakni banten pejati hingga banten yang dipuncaknya memiliki sesari.

Bacaan doa nya pun berbeda. Khusus ritual Pasopati Guru Piduka, doa yang dibacakan adalah mantra Weda, yakni himne suci yang berasal dari teks-teks Weda, kitab suci Hindu tertua.

Doa yang dipanjatkan untuk menghubungkan individu dengan yang ilahi, memohon kekuatan dewa-dewi, memberikan perlindungan dan berkah, mencapai pencerahan spiritual dan kesadaran, dan menyampaikan makna, bahkan ketika tidak dipahami secara literal.

“Harapannya ini kita bisa sangat menghargai leluhur. Jadi harapannya seperti tamansari yang punya bunga beragam semua juga membawa keindahan masing-masing,” ucapnya.

Sekadar informasi, upacara Pasopati Guru Piduka merupakan satu dari rangkaian gelaran budaya Bertajuk “Amenangi Wurare” yang berlangsung mulai 15-21 November 2025. (hk/red)

 

 

 

Tags: , , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.