Serunya Penyandang Cerebral Palsy Menembus Batas di Land of Dawn

Rudy Hartono - 8 February 2026
Irsam Anugrah Ramadhan, peserta cerebral palsy antusias mengikuti tournament E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku di Galeri Gadisku di Jalan Jemur Andayani Surabaya, Minggu (7/2/2026) (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Riuh rendah suara “Victory” dan dentuman musik khas Mobile Legends memenuhi ruangan Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT (Gadisku) Surabaya, Sabtu (7/2/2026). Di tengah terik siang itu, sebanyak delapan tim menunjukkan kepiawaian mereka mengolah strategi di arena Land of Dawn dengan format pertandingan Best of 3 (BO3).

Namun, kompetisi ini bukanlah turnamen biasa. Ini adalah panggung pembuktian bagi mereka yang sering dianggap terbatas oleh fisik, namun memiliki mental juara yang tak terukur dalam ajang “E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku”.

Irsam Anugrah Ramadhan tampak begitu fokus menatap layar gawai miliknya. Remaja asal Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Surabaya ini mengidap Cerebral Palsy, sebuah gangguan perkembangan otak yang membuat gerakan tubuhnya kaku dan bicaranya terkadang terganggu. Namun, saat jari-jarinya mulai menari di atas layar, semua hambatan itu seolah sirna berganti dengan ketangkasan manuver hero pilihannya.

Lebih 20 peserta tournament E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku antusias berkompetisi di Galeri Gadisku di Jalan Jemur Andayani Surabaya, Minggu (7/2/2026) (foto : vico wildan/superradio.id)

“Saya senang bisa menghadiri lomba ini,” tutur Irsam singkat dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan mendalam karena akhirnya mendapatkan ruang untuk berekspresi.

Perhelatan ini memang dirancang untuk mendobrak batas dan menciptakan sejarah baru di Jawa Timur. Edi Cahyono, sosok di balik Gadisku Surabaya, menegaskan bahwa tempat ini merupakan ekosistem baru untuk merangkul inklusivitas dan memberdayakan teman-teman disabilitas setelah masa rehabilitasi.

Lebih 20 peserta tournament E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku antusias berkompetisi di Galeri Gadisku di Jalan Jemur Andayani Surabaya, Minggu (7/2/2026) (foto : vico wildan/superradio.id)

“Ini (event kompetisi e-sport bagi disabilitas, Red) adalah yang pertama kali diselenggarakan di Jawa Timur. Kita ukir sejarah di hari ini. Ke depan kita akan kembangkan yang lebih besar lagi,” ujar Edi dengan penuh optimisme saat membuka acara tersebut.

Edi Juga menyampaikan kepada tim Super Radio bahwa peserta lomba ini tidak hanya dari Surabaya saja,  beberapa orang peserta ada yang berasal dari Malang, Gresik, Sidoarjo hingga Pasuruan.

Semangat inklusivitas ini juga mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah provinsi melalui Dinas Sosial Jawa Timur. Hendra, yang mewakili kepala dinas, menyebut turnamen ini sebagai bentuk nyata bahwa teknologi dapat menyetarakan kemampuan setiap orang tanpa memandang fisik.

Lebih 20 peserta tournament E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku antusias berkompetisi di Galeri Gadisku di Jalan Jemur Andayani Surabaya, Minggu (7/2/2026) (foto : vico wildan/superradio.id)

“Teman-teman disabilitas bisa untuk berkarya dari smartphone juga. Jadi diadakannya ini jadi teman-teman bisa mengatur strategi gimana caranya untuk menang, membentuk kekompakan dari tim,” ungkap Hendra yang menyamakan semangat kompetisi ini dengan ajang profesional seperti MDL atau MPL.

Dukungan pun mengalir dari berbagai lini, termasuk dari komunitas transportasi online yang diwakili oleh Pak Tito dari Raski. Kehadirannya memberikan pesan kuat bahwa masyarakat umum dan komunitas profesi sangat mendukung ruang-ruang kreatif bagi penyandang disabilitas.

“Komunitas kami memang tidak hanya teman-teman yang lain yang bukan disabilitas, tapi semuanya sangat sama tidak ada perbedaan. Jadi saya mendukung acara ini,” tegas Tito yang juga berkomitmen untuk terus menyalurkan dukungan melalui kanal-kanal yang ia miliki.

Direktur Gadisku Edi Cahyono saat membuka tournament E-Sport Disability Competition Mobile Legend Piala Gadisku di Galeri Gadisku di Jalan Jemur Andayani Surabaya, Minggu (7/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Di tengah keseruan pertandingan, tantangan komunikasi di dalam tim terkadang menjadi drama tersendiri yang menghibur. Raja, salah satu peserta, mengaku bahwa meskipun ada kendala teknis dalam koordinasi, kegembiraan bisa bertanding mengalahkan segalanya.

“Ada terkendala mengenai kekompakan dan dalam komunikasi antar anggota tim. Tapi gak papa yang penting seru. Kapan lagi bisa seru-seruan lomba,” kata Raja sambil tertawa lepas, menunjukkan bahwa esensi dari acara ini adalah kebahagiaan bersama.

Perjuangan para atlet memberikan perspektif baru bagi para penonton yang hadir. Di layar ponsel, tidak ada lagi sekat disabilitas; yang ada hanyalah kerja sama tim antara pemain yang saling melindungi untuk menghancurkan turret lawan.

Setiap momen “Maniac” atau “Savage” disambut teriakan histeris yang mengguncang galeri, membuktikan bahwa prestasi tidak mengenal batasan fisik selama ada kemauan dan fasilitas yang memadai.(js/red)

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.