Sampai Februari 2026 Pendapatan Negara Jatim Capai Rp37,05 Triliun
SR, Surabaya – Realisasi Pendapatan Negara di Jawa Timur hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp37,05 triliun atau 12,27 persen dari target Rp301,95 triliun. Sementara itu, Belanja Negara telah terealisasi sebesar Rp19,43 triliun atau 17,44 persen dari pagu belanja di wilayah Jawa Timur.
Kakanwil Direktorat Jenderal Pajak DJP Jatim 1 Ir. Max Darmawan, M.Tax menyampaikan, dari sisi penerimaan, kontribusi terbesar berasal dari Penerimaan Perpajakan yang mencapai Rp35,35 triliun atau 11,96 persen dari target Rp295,78 triliun. Penerimaan perpajakan tersebut terdiri dari penerimaan pajak yang dikelola Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebesar Rp15,26 triliun atau 10,56 persen dari target Rp144,53 triliun.
“Secara komposisi, penerimaan pajak netto di Jawa Timur didominasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM yang berkontribusi 69,06 persen. Sementara PPh Non Migas berkontribusi sebesar 37,16 persen,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak dengan nilai Rp8,57 triliun atau 56,2 persen dari total penerimaan pajak, mencerminkan peran strategis sektor manufaktur dalam struktur ekonomi Jawa Timur.
Sementara itu, Kakanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai DJBC Jatim I Rusman Hadi, S.Sos menyampaikan, penerimaan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tercatat sebesar Rp20,09 triliun atau 13,29 persen dari target Rp151,17 triliun.
Selain pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan capaian cukup baik, yakni Rp1,69 triliun atau 27,14 persen dari target Rp6,24 triliun.
Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp20,09 triliun tercatat mengalami kontraksi 8,23 persen secara tahunan (yoy). Rinciannya, penerimaan cukai mencapai Rp19,04 triliun atau 13,15 persen dari target APBN, terkontraksi 8,51 persen (yoy).
“Penurunan ini dipengaruhi turunnya produksi hasil tembakau golongan I, khususnya Sigaret Kretek Mesin (SKM) pada November dan Desember 2025,” ujarnya.
Sementara itu, penerimaan Bea Masuk sebesar Rp1,03 triliun atau 17,04 persen dari target APBN tumbuh 7,65 persen (yoy). Pertumbuhan ini didorong peningkatan nilai dan volume impor serta tingginya kurs pajak dolar AS terhadap rupiah.
“Adapun Bea Keluar terealisasi Rp24,02 miliar atau 6,40 persen dari target APBN, namun mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 81,15 persen (yoy) akibat penurunan harga crude palm oil (CPO) di pasar global,” katanya. ย (*/rri/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





