Salah Paham Ubo Rampe, Komponen Ruwatan Sejuta Makna

Rudy Hartono - 26 July 2024
Aneka rupa ubo rampe saat acara Ruwatan Massal di Festival Joko Dolog, Kamis (25/7/2024). (foto hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Berbicara terkait ruwatan, maka tak lepas dari komponen di dalamnya, yakni ubo rampe.

Ubo rampe merupakan perlengkapan yang dibutuhkan dalam upacara adat. Dalang Ki Surono Gondo Taruno menjelaskan, ubo rampe merupakan simbol komunikasi non verbal antara manusia dan leluhur.

Sajen contohnya. Komponen ritual tersebut berasal dari kata sastra yang berarti ajaran pitutur luhur dan jendro yang memiliki arti raja.

Sehingga sesajen adalah simbol permohonan untuk tak terikat nafsu dan selalu dekat dengan tuhan. “Sesajen itu bukan untuk setan. Jadi kita ini agar selalu dekat dengan tuhan, tidak terikat nafsu atau apapun hanya ke tuhan minta keselamatan, jadi orang yang baik, sopan, tata krama,” ujarnya.

Isinya pun beragam, diantaranya tumpeng, polo pendhem, polo gumanting, piranti pawon, dan mahluk yang hidup di darat dan air sebagai wujud implementasi alam.

“Disamping itu kita belajar sedekah, ikhlas, memberi santunan. Ada mantra khusus juga agar yg diruwat itu selamat, menjadi sholeh dan solehah dan jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara,” jelasnya.

Mengutip laman Kemdikbud, tumpeng merupakan simbol wujud syukur kepada tuhan. Bentuk tumpeng yang menyerupai gunung dan mengerucut, menyimbolkan keselamatan, kesuburan, kesejahteraan, dan kemakmuran sejati. Layaknya gunung yang dikelilingi air dan tumbuhan.

Pembacaan doa dan pengharapan dalam tradisi ruwatan. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Selanjutnya ada polo pendhem yakni makanan tradisional yang dimasak dengan cara dikukus, seperti: singkong, ketela, kacang, hingga pisang.

“Misalkan pisang atau di bahasa jawa disebut gedang supaya saget padang, ada maron yang dari bumi diulet dengan air lalu dibakar dan dikeringkan itu simbol,” tutur Ki Surono.

Lalu beras dan kelapa sebagai simbol sumber kewarasan serta persatuan. “Ada juga beras sebagai sumber kewarasan. Beras berasal dari padi yang selalu menunduk, dan padi tidak bisa matang kalau tidak bergesekan itu simbol persatuan. Ada kelapa wong nek klop bakal entuk opo-opo,” sebutnya.

Selanjutnya, dilengkapi dengan bubur warna-warni yang melambangkan empat elemen yakni bumi, api, air, dan angin. Bubur sengkolo putih melambangkan kesucian, bubur kuning sebagai lambang nafsu amarah, dan hijau melambangkan bumi.

Sedangkan bubur merah putih disimbolkan sebagai orang tua. Awal mulanya tercipta manusia hingga terbentuk janin yang dikandung selama sembilan bulan.

Ubo rampe bubur merah putih menggambarkan bapak dan ibu, lingga yoni. Itu kalau dibuka mani roh, mani nya bapak dan ibu menjadi roh dalam rahim sembilan bulan,” jelasnya. (hk/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.