Remaja Sapta Darma Belajar Pangrukti Layon: Merawat Tradisi, Meneguhkan Identitas
SR, Surabaya — Suasana khidmat di Sanggar Busana Sapta Darma di Jalan Jemursari Surabaya, Minggu pagi, 7 Desember 2025. Tepat pukul 09.00, para penghayat, khususnya kalangan remaja, berkumpul mengikuti pelatihan pangrukti layon, sebuah ritual pemulasaraan jenazah dalam tradisi Sapto Darmo.
“Setiap agama dan kepercayaan punya cara sendiri-sendiri dalam tata cara pemakaman. Prosesi pemulasaran merupakan bagian spiritual penting dalam perjalanan manusia kembali kepada Tuhan Mahapencipta,” kata Yudi Arianto, praktisi pemulasaran jenazah dari Persatuan Warga Sapta Darma (Persada).

Acara kemudian dilanjutkan dengan latihan praktik pangrukti layon oleh generasi muda Sapto Darmo. Sebelum memasuki inti acara, para remaja terlebih dahulu melaksanakan Sanggaran Remaja. Dalam tradisi Sapto Darmo, sanggar adalah pusat kegiatan spiritual, doa, dan kebatinan
Tahapan pangrukti layon di Sapta Darma adalah tata cara pemulasaraan jenazah yang dijalankan dengan penuh penghormatan batin. Prosesi ini dimulai dengan doa sujud, pembacaan wewarah tujuh, serta sesanti yang mengingatkan keluarga dan hadirin akan nilai hidup.

Selanjutnya jenazah dibersihkan menggunakan air bersih dengan doa batin, lalu jenazah diberi pakaian sebelum jenazah dibungkus kain kafan. Menjelang pemakaman dilakukan dengan doa sujud dan penghormatan batin, kadang diiringi tembang atau doa kebatinan berharap menambah sakral keseluruhan proses pemulasaran.
“Pakaian yang dikenakan jenazah bisa berupa kain jarit atau busana sederhana sesuai tradisi keluarga atau busana adat Jawa. Jenazah dipakaikan busana Jawa sebagai simbol keselarasan dengan alam dan budaya,” terang Yudi.
Usai praktik Yudi mengatakan bimbingan teknis pangrukti layon ini penting diberikan atau disosialisasikan agar pemuka dan penghayat memahami prosedur ritual, menyesuaikan dengan hukum dan administrasi negara, serta menjaga penghormatan penuh bagi jenazah.

“Bimtek ini diberikan agar pemulasaraan jenazah warga Sapta Darma berjalan sesuai ajaran Sapto Darmo. Bagi Remaja Sapta Darma, bimtek ini bisa dijadikan bekal dalam menjaga nilai-nilai spiritualitas yang telah diajarkan,” tutur Yudi.
Salah seorang pengurus Persada Jatim Wisnu mengungkapkan tantangan yang dihadapi penghayat dalam pemulasaran jenazah, di antaranya soal diskriminasi. “Yang sering dialami kami penghayat di antaraya berhadapan dengan penolakan atau kebingungan aparat desa dan kelurahan dalam pencatatan kematian. Padahal, prosesi pemulasaran ini sah dan sakral bagi semua warga Indonesia tak terkecuali, termasuk penghayat,”aku Wisnu kepada Super Radio.
“Beberapa warga penghayat sapto darmo sering kali kesulitan dalam mengurusi jenazah dari pengahayat, mufti desa terkadang tidak mengurusi proses pemandian dan pemakaman maka dari itu perlu bagi kita membentuk kepengurusan secara mandiri,” kata Wisnu paparkan alasan bimtek pemulasaran dilakukan. (js/red)
Tags: pangrukti layon, pemulasaran jenazah, penghayat, Remaja, sapta darma, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





