Rasio, Bocah 11 Tahun Buat Vitamin Pencegah Stunting dari Cangkang Telur
SR, Surabaya – Berawal dari keresahannya pada limbah yang menumpuk, siswa SDN Kaliasin 1/280 Surabaya, Sanggrama Rasio Al-Warisyi (11) berhasil mengubah limbah cangkang telur menjadi pupuk dan bubuk kalsium yang membantu mengurangi stunting.
Rasio mengatakan, ide bermula dari rasa penasarannya saat membeli makanan di dekat rumah. Ia yang saat itu berusia 10 tahun merasa resah. Melihat banyak sampah cangkang telur menumpuk di dekat stan martabak dan telur gulung langganannya.
Tak lama berselang, Rasio pun mengikuti ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup Surabaya. Disana ia berkesempatan melihat TPA Benowo. Terjawablah rasa penasarannya. Ternyata limbah cangkang telur sangat menumpuk.
Semangatnya pun makin membara. Dibantu kedua orang tuanya ia bertekad mengolah limbah tersebut menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Dan benar saja, usai membaca beberapa jurnal, ditemukan fakta bahwa cangkang telur mengandung kalsium karbonat, magnesium, fosfor, dan protein yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tanah, alam, dan tubuh manusia.
“Saya mulai tertarik dari kelas 5 SD pas umur 10 tahun. Awalnya karena melihat sampah cangkang telur dan saat itu juga saya mengikuti lomba pangeran putri lingkungan hidup,” ujarnya, Minggu (3/8/2025).
Akhirnya ia mulai mengambil sampah cangkang telur dari lingkungan sekitar, penjual makanan dan restoran untuk uji coba. Terciptalah dua produk yakni pupuk organik tanaman POT.CT dan bubuk atau tepung cangkang telur bernama EG-CAP (Eggshell Calcium Powder).
POT.CT dibuat dengan mencuci cangkang telur lalu dijemur dan dihaluskan. Berguna untuk menyuburkan media tanam dan tanaman. Caranya diaplikasikan sebelum menanam dan dilakukan 1-2 kali seminggu, disebar ke tanah dan disiram air.
Sedangkan EG-CAP dibuat dengan lebih steril. Cangkang telur dicuci, lalu di jemur, direbus, disterilkan dalam oven bersuhu tingg, dan dihaluskan. Hasilnya bisa dicampurkan 20 persen pada makanan dan minuman yang disukai. Seperti puding, kukis, hingga kopi.
Rasio melanjutkan, bubuk kasliumnya juga terbukti menurngkan kadar asam pada kopi sehingga aman untuk asam lambung. “Penambahan kalsium dari cangkang telur, kopi tujuannya untuk mengurangi asam pada kopi,” jelasnya.
Dari usahanya, anak kedua dari dua bersaudara itu bisa mendapatkan uang jajan tambahan. Bahkan ia berhasil mengajak teman-temannya untuk turut serta. Mengurangi intesitas mereka melihat gadget dengan membuat pupuk alami.
“Ini sudah saya pasarkan di pameran-pameran juga. Iya, juga ngajak teman teman buat bikin pupuk dari cangkang telur dan teman-teman jadi berkurang main HP nya,” sebutnya.
Tentu hal ini sangat membanggakan. Ibunda dari Rasio, Indah tri wahyuningsih (45) turut membagikan ceritanya. Ia mengaku bersyukur, anaknya punya semangat melestarikan lingkungan.
“Ia merasa bersyukur karena dia masih kecil sudah bisa kita ajak memikirkan lingkungan sekitar kita. Bukan hanya prestasi untuk diri sendiri tapi ada kepedulian,” ungkapnya.
Perempuan asal Surabaya itu menyebut, kepekaan Rasio pada lingkungan memang terbentuk sejak kecil. Ia bercerita, di rumah, keluarganya sudah terbiasa memilah sampah rumah tangga. Mereka punya komposter limbah yang dirancang untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
“Kita upayakan sampah plastik kalau tidak bisa kita olah, dipisah. Alhamdulillah semenjak Rasio belum TK sudah bisa membuat tempat sampah sendiri, sampai akhirnya kita punya komposter untuk limbah sayur dan buah,” ucapnya.
Potensi anaknya mulai terlihat saat Rasio memasuki usia pra TK. Kala itu Rasio membuat tempat sampah menyerupai komposter. Dari sanalah Indah dan sang suami mulai mengenalkan Rasio pada beberapa isu lingkungan.
Bertahap, mereka dampingi potensi anaknya. Menstimulasi lewat tingkah laku yang baik, mencarikan jurnal-jurnal soal limbah, dan mendaftarkan anak-anaknya ke perlombaan ataupun ajang yang berkaitan dengan sosial dan lingkungan.
Tak lupa mereka memberikan kepercayaan dan apresiasi pada usaha anak-anak mereka. “Karena gak mungkin anak bisa melakukan sesuatu langsung tanpa meniru perilaku kita dulu. Kita berikan kepercayaan bahwa mereka bisa, beri apresiasi pada anak anak karena sudah mau berusaha,” sebutnya.
“Jadi mimpinya kita bangun dari jangan hanya melihat diri sendiri tapi juga lihat sekitar yang kekurangan,” tandasnya. (hk/red)
Tags: kulit telur, sdn kaliasin 1, Siswa SD, stunting, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





