Post-Truth dan Culture Shock Pengaruhi Maraknya Hoax

Yovie Wicaksono - 28 July 2019
Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden FX Rudi Gunawan dalam Diskusi Jurnalis Surabaya yang bertemakan Fake News vs Real News, pada Sabtu (27/7/2019). Foto : (Super Radio)

SR, Surabaya – Kondisi saat ini, merupakan era post-truth dimana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membangun opini publik daripada fakta yang ada. Hal tersebut dinilai merupakan salah satu faktor maraknya hoax.

“Era post-truth ini dimana kita sudah malas untuk mencari kebenaran. Maka yang disentuh adalah emosional. Kemudian yang terjadi adalah cinta pada ajaran yang dinyatakan benar. Bukan lagi cinta kebenaran, karena kita sudah bosan dan malas mencari kebenaran,” ujar Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden FX Rudi Gunawan dalam Diskusi Jurnalis Surabaya yang bertemakan Fake News vs Real News, pada Sabtu (27/7/2019).

Hal tersebut diamini oleh Dian Noeswantari dari Pusat Hak Asasi Manusia (HAM) Universitas Surabaya. Ia mengatakan, konten emosional lebih viral terutama yang bersifat positif membangkitkan semangat, termasuk kemarahan.

“Kenapa konten bisa menjadi viral karena itu menggugah emosi. Bagaimana emosi seseorang yang awalnya tidak diaktivasi menjadi aktif, seperti button on. Langsung viral, padahal belum tentu konten itu benar,” ujar Dian.

Selain era post-truth, culture shock juga berpengaruh terhadap maraknya hoax. Dimana kemajuan teknologi yang tidak diimbangi oleh etika bersosial media. Setiap orang berlomba-lomba menjadi yang pertama paling tau dengan menyebarkan konten tanpa adanya filter terlebih dahulu.

Dian mengatakan, untuk memastikan kebenaran sebuah konten, cek terlebih dahulu siapa penulisnya, baca diluar judul, periksa penulis, bahkan jika diperlukan tanyakan kepada ahlinya untuk mendapatkan konfirmasi dari orang independen yang memiliki pengetahuan.

“Cek penulisnya dulu, disaring dengan logika dan hati, membaca lebih dari isi berita yang ada, sumber-sumber pendukungnya, kalau perlu juga tanya pada ahlinya,” imbuhnya.

Rudi menambahkan, memiliki budaya membaca, berwawasan luas, dan berfikir kritis dapat menjadi filter dalam menerima konten ataupun informasi yang beredar.

“Kita perlu meningkatkan budaya membaca kita, harus punya wawasan luas, dan berfikir kritis. Tiga hal itulah yang bisa menjadi filter kita dalam menerima informasi,” tandasnya.

Sekedar informasi, diskusi ini digelar Superradio.id dan didukung oleh Kantor Staf Presiden serta Pusham Ubaya. Peserta yang hadir, terdiri dari jurnalis, akademisi, praktisi dan pers mahasiswa. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.