Perubahan Iklim, Disabilitas Paling Rentan tapi Sering Terabaikan
SR, Surabaya — Perubahan iklim bukan hanya soal suhu bumi yang meningkat atau cuaca ekstrem yang makin sering terjadi. Dampak terbesarnya justru dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Dalam situasi bencana, mereka sering kali menghadapi hambatan tambahan: sulitnya evakuasi, kurangnya akses informasi darurat, hingga terbatasnya fasilitas pengungsian yang ramah difabel.
United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR, 2024) menekankan bahwa penyandang disabilitas empat kali lebih mungkin meninggal saat terjadi bencana dibanding kelompok lain. Hal ini bukan semata karena kondisi fisik mereka, tetapi karena sistem tanggap darurat yang belum inklusif. Misalnya, sirine peringatan tidak bisa diakses oleh tunarungu, atau jalur evakuasi yang tidak ramah kursi roda.
Di Indonesia, BNPB bersama Kemensos RI sudah mulai mendorong integrasi kebutuhan difabel dalam rencana penanggulangan bencana. Salah satu contohnya adalah pelibatan komunitas difabel dalam simulasi evakuasi di daerah rawan banjir dan gempa. Namun, jumlah fasilitas pengungsian yang menyediakan aksesibilitas masih sangat terbatas.
Menurut WHO Climate Change and Health Report (2025), penyandang disabilitas juga menghadapi dampak jangka panjang dari perubahan iklim, seperti meningkatnya penyakit menular, kelangkaan pangan, dan keterbatasan layanan kesehatan. Semua itu memperparah ketidaksetaraan yang sudah ada sebelumnya.
Perubahan iklim adalah isu global, tapi responsnya harus lokal dan inklusif. Menyediakan jalur evakuasi ramah kursi roda, informasi darurat dalam bahasa isyarat, dan pelibatan komunitas difabel dalam perencanaan kebijakan bisa menjadi langkah nyata agar tidak ada yang ditinggalkan. (*/dv/red)
Tags: disabilitas, global, perubahan iklim, superradio.id, terabaikan
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





