Perbedaan Disinfektan dan Antiseptik

Yovie Wicaksono - 28 March 2020
Ilustrasi. Foto : (cen.acs.org)

SR, Surabaya – Pandemi Covid-19 yang telah melanda berbagai negara di dunia membuat masyarakat berbondong-bondong memburu produk kesehatan seperti hand sanitizer dan antiseptik sehingga menimbulkan kelangkaan.

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Retno Sari menjelaskan, disinfektan merupakan suatu bahan kimia yang mampu menghancurkan mikroorganisme, tetapi tidak dapat menghancurkan spora bakteri. Disinfektan tidak membinasakan semua mikroorganisme, tapi mengurangi jumlah mikroorganisme sampai batas jumlah yang tidak membahayakan kesehatan.

“Sementara itu, istilah antiseptik lebih ditujukan untuk bahan yang digunakan pada kulit atau manusia,” ucap Retno.

Antiseptik adalah bahan kimia yang mampu menghancurkan atau menghambat mikroorganisme yang terdapat dalam jaringan hidup. Caranya adalah dengan membatasi atau mencegah infeksi yang membahayakan.

Antiseptik biasanya digunakan untuk cuci tangan, disinfeksi kulit, perawatan kulit terinfeksi, dan obat kumur. Sementara disinfektan biasanya digunakan untuk ruangan, lantai, peralatan, dan kamar mandi.

Terdapat beberapa syarat bahan disinfektan atau antiseptik yang baik. Di antaranya adalah bekerja dengan baik dalam waktu singkat, berspektrum luas atau dapat digunakan untuk semua jenis mikroorganisme, ditoleransi dengan baik oleh kulit, mukosa, dan luka. Kemudian bekerja dalam waktu lama, toksisitas rendah, dan bau tidak mengganggu.

“Kerja dari bahan disinfektan atau antiseptik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsentrasi, waktu kontak, pH, jenis mikroorganisme, luas area terkontaminasi, bahan organic, dan formulasi,” lanjutnya.

Ia mengatakan, contoh dari bahan tersebut adalah etanol, isopropil alkohol, klorheksidin, benzalkonium klorida, Iodine, klorin, eugenol, hidrogen peroksida (H2O2), formaldehid, kelompok fenol, dan lain sebagainya.

Bahan yang biasanya digunakan untuk antiseptik adalah etanol, isopropyl alkohol, iodine (povidone-iodine), klorheksidin, triklosan, dan timol. Sementara bahan yang biasanya digunakan untuk disinfektan adalah formaldehid, H2O2, Natrium hipoklorida, hidroksi toluen/kresol.

“Hal yang perlu menjadi perhatian adalah bahan antiseptic atau disinfektan pada pemakaian yang tidak sesuai dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mukosa, saluran pernafasan,” jelas Retno.

Retno menambahkan, tindakan disinfeksi merupakan tindakan membunuh mikroorganisme pathogen yang dapat menginfeksi manusia atau hewan dengan mengunakan bahan atau metode tertentu. Menurutnya, langkah yang baik untuk mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme guna mencegah penularan penyakit infeksi adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh.

“Pembersihan lingkungan yang dimaksud adalah menghilangkan sampah, kotoran, debu. Hal ini dapat dilakukan dengan menyapu, membersihkan dengan kain, apabila perlu dengan sabun untuk menghilangkan lemak,” terangnya.

Secara umum disinfeksi bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sparing, wiping, mopping, submersion, fogging, dan fumigation.

Sementara disinfeksi dapat dilakukan dengan menggunakan cairan pembersih yang mengandung disinfektan yang aman. Yaitu untuk membersihkan lantai dengan kain pel, membersihkan permukaan dengan kain atau menyemprot ruangan dengan yang mengandung bahan disinfektan yang aman.

“Untuk ruangan yang lebih luas atau udara bisa dilakukan dengan penyemprotan dengan uap atau asap,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.