Pengrajin Madiun Ubah Limbah Kayu Jadi Wayang

Yovie Wicaksono - 24 August 2020
Pengrajin kayu Omah Kinarya asal Desa Mojorejo, Kecamatan Kebon Sari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Joko Suwiono manfaatkan sisa limbah kayu menjadi wayang kayu. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Seorang pengrajin kayu Omah Kinarya asal Desa Mojorejo, Kecamatan Kebon Sari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Joko Suwiono manfaatkan sisa limbah kayu menjadi wayang kayu yang memiliki nilai artistik.

Bahan kayu bekas yang digunakan Joko untuk membuat wayang ini ada beragam jenis, mulai dari kayu jati, kayu sonokeling, kayu mentaos, hingga kayu sengon, tergantung permintaan dari pelanggan.

“Semua bahan memanfaatkan limbah kayu, akhirnya kita custom. Akhirnya menjadi kerajinan kayu. Ada juga kayu pilihan, tergantung permintaan pemesanan,” ujarnya ketika ditemui di Balai Kota Kediri saat mengikuti kegiatan kurasi penilaian tentang produk Usaha Mikoro Menengah Kecil Menengah (UMKM) untuk siap ekspor.

Wayang kayu yang dibuatnya memiliki beragam ukuran, mulai dari yang terkecil sampai dengan ukuran L plus, bahkan ada juga yang berukuran hingga 1 meter, tergantung pesanan.

Harga yang dijual pun bervariatif, mulai Rp 150 ribu hingga Rp 2,5 juta. Disamping itu, ia juga membuat miniatur dan gantungan kunci bergambar wayang yang harganya sangat terjangkau, yakni Rp 10 ribu per item.

Dari sekian tokoh pewayangan yang ada dan pernah ia buat, paling populer banyak peminatnya adalah sosok Arjuna Srikandi, Rama Shinta dan Punakawan.

Pada saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, diakuinya sangat berpengaruh terhadap penjualan. Pertimbangannya tentu pembeli lebih berpikir mengutamakan kebutuhan primer lebih dulu ketimbang sekunder. Namun dirinya saat ini masih beruntung, karena disaat penjualan lesu karena covid, ia mendapatkan pesanan untuk membuat 50 item cendera mata berlogo khas Kabupaten Madiun per bulannya.

“Kebetulan juga saya kan diberi amanah sama bapak Bupati Madiun untuk membuat cendera mata kabupaten, kita yang membuat tiap bulan,” ujarnya.

Kerajinan tangan yang dibuatnya ini, dipasarkan oleh istrinya melalu media sosial (medsos) Facebook dan Instgram. “Kalau pemasarannya dipegang istri, promosi melalui medsos,” katanya.

Usaha kerajinan wayang kayu ini sendiri dirintisnya sejak 2018 lalu. Sebelum membuat kerajinan wayang kayu, ia pernah membuat kerajinan lampu berbahan paralon yang kemudian ia memilih vakum untuk sementara waktu hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pemilik usaha yang memotivasinya untuk kembali berkarya dan memberinya ide atau masukan untuk membuat kerajinan tangan menggunakan bahan dasar alam (kayu).

Menginjak September 2018, saat mengikuti pameran di Madiun, ternyata kerajinan tangan hasil karyanya ini mendapat respon positif dari pengunjung. Dimana dari delapan kerajinan wayang kayu yang dibuat waktu itu, dua diantaranya dibeli langsung oleh orang Jepang. Semenjak itu, ia termotivasi kembali untuk kembali berkarya.

“Waktu itu langsung diajak pameran di Madiun, kebetulan yang saya buat tidak banyak Cuma delapan. Dari delapan, yang dua langsung meluncur ke Jepang, yang beli orang Jepang yang kebetulan tertarik. Semenjak itu saya lebih bersemangat, waktu itu hasil karya saya dibeli seharga Rp 150 ribu,” ujarnya.

Semenjak itu, Joko terus berinovasi dengan kerajinan tangan wayang kayunya. Berbagai jenis bahan olahan kayu pernah ia coba. Bahkan ia pernah membuat keris berbahan kayu ketika itu.

Oleh karena hasil karyawannya sudah dikenal banyak orang, semenjak itu ia mulai membuat banyak pesanan dari Madiun mau pun luar kota antara lain Kediri, Surabaya, Jakarta bahkan dari luar Jawa. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.