Pemuda Katolik Jatim Dorong Politik Berkeadaban dan Demokratis

Rudy Hartono - 10 February 2026
Suara warga adalah artikel atau opini pribadi penulis dan bukan representasi redaksi Super Radio
(kiri ke kanan) Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Ketua PP Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, Ketua PP Pemuda Katolik Komda Jatim Christophorus Suryo, Vikaris Jenderal Keuskupan Malang Rm. Ignasius Adam, Pr saat Seminar Nasional bertema “Bergerak Dari Altar ke Pasar: Merawat Politik dan Demokrasi yang Berkeadaban” di SMAK St. Albertus (Dempo), Malang, Sabtu (7/2/2026). (foto: istimewa) 

SR, Malang – Pelaksanaan Kelas Politiku Pemuda Katolik di Malang pada 7–8 Februari 2026 menjadi momentum kaderisasi politik berkeadaban, menghadirkan narasumber nasional dan lokal, serta menegaskan pentingnya implementasi ilmu dalam kehidupan sosial-politik masyarakat.

Kegiatan ini diawali dengan Seminar Nasional bertema “Bergerak Dari Altar ke Pasar: Merawat Politik dan Demokrasi yang Berkeadaban” di SMAK St. Albertus (Dempo), Malang. Seminar dihadiri ratusan umat Katolik, organisasi lintas iman, serta Komisariat Daerah Pemuda Katolik se-Regio Jawa dan Lampung.

Hadir pula Vikaris Jenderal Keuskupan Malang Rm. Ignasius Adam, Pr., Rm. Joko Purnomo, O.Carm., Dewan Pembina Pemuda Katolik Komda Jatim, serta Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin.

Seminar tersebut menghadirkan narasumber Rm. Yohanes K. Jeharut, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI, yang menekankan pentingnya keterlibatan umat Katolik dalam politik sebagai wujud iman yang hidup.

Selain itu hadir pembicara Prof. A. Ramlan Surbakti, pakar kepemiluan yang menguraikan tantangan demokrasi Indonesia dan perlunya pengawasan ketat terhadap proses pemilu. Ia menegaskan bahwa demokrasi berkeadaban harus dimulai dari kesadaran individu.

Merespons dialog selama seminar, Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa kader harus menjadi agen perubahan sosial dengan mengedepankan nilai keadaban. “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan jalan pelayanan,” ujarnya

Sementara itu, Christophorus Suryo, Ketua Komda Jatim, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi antara Pemuda Katolik Komda Jatim, Pengurus Pusat Pemuda Katolik dan Kerasulan Awam Keuskupan Malang. Ia berharap setelah acara ini, kader Pemuda Katolik di Malang dan sekitarnya melanjutkan kolaborasi tersebut. “Kaderisasi harus berkelanjutan, bukan berhenti di satu acara,” Christophorus Suryo

Pemuda Katolik Jatim mengepresiasi kehadiran Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin yang ikut menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap kaderisasi politik berkeadaban. Dalam sambutannya, Wawali Kota Malang menyampaikan bahwa politik harus menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar perebutan kepentingan.

Suasana Seminar Nasional bertema “Bergerak Dari Altar ke Pasar: Merawat Politik dan Demokrasi yang Berkeadaban” di SMAK St. Albertus (Dempo), Malang, Sabtu (7/2/2026). (foto: istimewa)

Menjaga Integritas

Setelah seminar umum, Kelas Politiku  memberikan pelatihan yang diikuti kader-kader Pemuda Katolik. Narasumber yang dihadirkan: Abdul Warits (Ketua Bawaslu Jatim), Rm. Dr. Yustinus CM, Yuventia (Dosen Universitas Negeri Malang), dan Benny Sabdo (Anggota Bawaslu DKI Jakarta).

Dalam sesi kelas, Abdul Warits menekankan peran Bawaslu dalam menjaga integritas demokrasi. Ia mengingatkan bahwa pengawasan bukan hanya tugas lembaga, tetapi juga masyarakat sipil.

Yuventia mengajak peserta memahami politik dari perspektif akademis, menekankan pentingnya riset dan analisis dalam membaca dinamika sosial.

Lalu, Benny Sabdo menambahkan pengalaman praktis pengawasan di DKI Jakarta, memberi gambaran nyata tentang dinamika politik lokal. “Kader harus siap menghadapi kompleksitas politik di lapangan,” katanya.

Kehadiran narasumber lintas disiplin ini memperkaya wawasan kader, menghubungkan teori dengan praktik, serta menegaskan bahwa politik adalah ruang pelayanan publik.

Nurita Yuliati, Wakil Ketua Bidang Politik dan Kepemiluan Pemuda Katolik Jatim yang juga Ketua SC acara ini menambahkan Kelas Politiku menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi bagi kader. Mereka diajak memahami politik sebagai ruang pelayanan, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Setelah pelatihan inipun, bakal ada tindak lanjut berupa pertemuan kecil sebagai bagian dari action plan batch I. “Kader-kader yang lulus akan kami temani dalam pertemuan kecil, agar kapasitas mereka terus terjaga,” pungkasnya. (*/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.