Pemerintah Ratakan Fasilitas Internet melalui Satelit Satria-1, Begini Kata Pakar

Yovie Wicaksono - 11 January 2024

SR, Surabaya – Sebagai salah satu upaya untuk memudahkan akses pendidikan, kesehatan, dan layanan publik, pemerintah melakukan perataan layanan fasilitas internet di seluruh wilayah melalui peluncuran Satria-1 (Satelit Republik Indonesia). 

Satelit Satria-1 yang sudah meluncur di ruang angkasa sejak Juni 2023 ini, diprediksi mulai beroperasi awal tahun 2024. Satelit ini menjadi pelengkap dari satelit komunikasi milik Indonesia lainnya karena terancang untuk menjangkau wilayah timur dan terpencil. 

Keberadaan satelit komunikasi baru seperti itu mendapat respon positif dari Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknik Maju dan Multidisiplin (FTMM), Universitas Airlangga, Asif Ali Zamzami. 

Dosen yang mendalami bidang pengolahan sinyal 5G/6G untuk Satelit Internet of Things (IoT) ini menjelaskan, Satria-1 merupakan teknologi baru yang tergolong satelit terbesar di Asia. 

“Satria-1 tergolong satelit terbesar di Asia dengan memiliki tinggi sekitar 6,5 meter. Bentuk satelit yang besar ini mendukung kecepatan internet sebesar 150 Gbps sehingga dapat menjangkau lebih banyak titik lokasi. Selain itu, satelit yang besar juga bisa menyimpan energi agar lebih awet dan tahan lama,” jelasnya.

Selain mempunyai kecepatan internet yang besar, Asif Ali Zamzami menerangkan, Satria-1 berhasil meluncur di orbit 146ᵒ Bujur Timur. Dia menjelaskan, titik tersebut berada tepat di atas Pulau Papua dengan ketinggian lebih dari 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.

“Sebelum Satria-1, pemerintah sudah pernah meluncurkan satelit. Namun, baru kali ini terdapat satelit yang berhasil mencapai titik orbit di Wilayah Timur Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, Asif Ali Zamzami menyampaikan lebih rinci wilayah-wilayah stasiun di bumi yang termasuk titik pemancar dan penerima informasi dari satelit Satria-1. Dia menyebutkan ada 11 lokasi yang menjadi satelit stasiun bumi yaitu Cikarang (lokasi pemegang pusat kendali), Batam, Banjarbaru (lokasi pusat kendali cadangan jika stasiun Cikarang tidak bekerja dengan baik), Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manado, Manokwari, Timika, dan Jayapura.

Asif Ali Zamzami menerangkan, pembuatan satelit yang terobitkan di daerah-daerah terpencil merupakan bagian dari program pemerintah dalam memfasilitasi alat komunikasi secara merata. Menurutnya keberadaan satelit menjadi alternatif pilihan yang lebih mudah menjangkau lokasi wilayah dengan infrastruktur yang terbatas daripada penggunaan BTS (Base Transceiver Station) di sana.

“Penggunaan komunikasi nirkabel antara perangkat komunikasi dan jaringan operator sulit diterapkan di daerah yang jarang menggunakan kabel seperti di Papua. Oleh karena itu, pemerintah berinisiatif meluncurkan kembali satelit untuk memeratakan layanan internet,” terangnya.

Selain itu, Asif Ali Zamzami menguraikan bahwa penggunaan satelit mempunyai masa sekira 15 tahun. Baginya jangka waktu tersebut tergolong cukup lama untuk dapat merasakan manfaat keberadaan satelit.

“Pembuatan satelit, terutama satelit yang besar tentu memakan banyak dana yang tidak sedikit. Akan tetapi, penggunaan satelit yang dapat terpakai hingga 15 tahun dinilai efisien untuk memberikan fasilitas internet dalam jangka panjang,” pungkasnya. (*/red) 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.