Pelajar SMAK St. Hendrikus Belajar Politik di Kantor DPRD Jatim

Yovie Wicaksono - 6 November 2019
Pelajar SMAK St. Hendrikus Surabaya kunjungi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur (DPRD Jatim), Rabu (6/11/2019). Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Pelajar SMAK St. Hendrikus Surabaya belajar tentang politik yang sehat dan perpolitikan dalam field trip di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur (DPRD Jatim), Rabu (6/11/2019).

Field trip kali ini diselenggarakan dalam program Student and Teacher Empowerment Program (STEP), yakni program untuk memadukan bakat dan minat antara guru dan siswa, seperti STEP Social Research Club (SRC), Debate Club, dan Menulis itu Mudah (MIM).

Kepala SMAK St. Hendrikus Surabaya, Sr. Yuliana Antin Kaswarini, MC mengatakan, kegiatan ini sesuai dengan visi dan misi sebagai sekolah Katolik yang berkualitas, dinamis, dan responsif, serta mendukung misi sekolah yang bertujuan mengembangkan potensi unggul pelajar.

“Kegiatan field trip dilakukan agar para siswa-siswi mampu mengembangkan daya analisa berkaitan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, khususnya mengenai kondisi perpolitikan di Indonesia. Bukan politik praktisnya, melainkan kondisi sosial pasca pesta politik di Indonesia tahun 2019 ini,” ujarnya.

Pengampu STEP SRC, Michael Andrew menambahkan, kondisi sosial pasca pemilu hingga saat ini di nilainya masih belum stabil. Salah satu efek sosial yang terjadi adalah banyaknya hubungan keluarga, pertemanan, persahabatan putus karena perbedaan pilihan politik. Bahkan, munculnya rasa pesimisme dan apatisme di generasi muda terhadap politik.

“Maka harapan kami yaitu penting agar para generasi muda, khususnya siswa-siswi SMAK St. Hendrikus, tidak mudah pesimis, apatis, apalagi sampai apolitis,” ujarnya.

Sementara itu, pengampu STEP Debate Club, Yozoa Kriswanto mengatakan, selama ini perdebatan di media adalah perdebatan yang kurang substansial bahkan cenderung bukan perdebatan yang logis. Oleh karena itu, ia menilai membangun dialog yang baik dan logis menjadi hal yang penting agar pembelajaran politik yang baik dan sehat tidak tergeser oleh oknum-oknum yang membuat politik itu buruk.

Terlebih dalam menulis, menurut pengampu MIM, Aloisius Rabata, mampu melatih berpikir kritis dan peka terhadap lingkungan perpolitikan, sekaligus dapat melihat dari berbagai sudut pandang.

Kunjungan tersebut disambut baik oleh Anggota Komisi B DPRD Jatim, yakni Agatha Retnosari dan Go Tjong Ping.

Selain berdialog dan belajar tentang perpolitikan di Jawa Timur, Agatha dan Tjong Ping juga sempat bercerita mengenai peranannya, dimana menjadi Katolik dan Tionghoa bukan berarti menjadi minoritas dan tidak bersuara apa-apa. Justru dalam politik, mereka menyuarakan suara rakyat tanpa harus melihat latar belakang SARA.

Salah satu siswa dari STEP SRC, Jeffson mengaku sangat terinspirasi sekaligus sangat senang, dimana orang yang dianggap minoritas ternyata mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara.

“Kunjungan ke DPRD Jatim ini membuat saya tertarik untuk semakin mendalami apa saja yang berkaitan dengan sistem perpolitikan di Indonesia. Bahkan, kita tidak bisa lepas dari politik, karena politik itu salah satunya hadir dalam rupa lobbying misalnya,” imbuh Steffany dari STEP MIM. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.