Mono Serigrafi : Sulap Teknik Sablon Massal Jadi Karya Seni Tunggal.
SR, Surabaya – Teknik sablon yang selama ini identik dengan produksi massal kaos dan poster, disulap menjadi medium ekspresi seni personal dalam Workshop Mono Serigrafi di program publik Artsubs 2026.
Workshop yang digelar di bawah tenda sederhana depan Aula Barat Balai Pemuda Surabaya pada 2–3 Oktober 2026 ini dipandu oleh seniman grafis Wahyu Amikarsa. Dalam sehari, lokakarya dibagi dua sesi, pukul 13.00–15.00 WIB dan 15.30–17.30 WIB, dengan kuota terbatas 10 peserta per sesi.
Berbeda dari workshop sablon pada umumnya, peserta tidak dituntut menghasilkan cetakan yang identik. Justru perbedaan warna, tekstur, tekanan rakel, hingga sapuan tinta yang tak terduga didorong sebagai nilai artistik.
“Inilah gagasan Mono Serigrafi. Sablon tidak kami gunakan untuk memperbanyak, tapi untuk menghasilkan cetakan tunggal yang karakternya berbeda satu sama lain,” ujar Wahyu saat ditemui di lokasi, Jumat (2/10/2026).
Secara istilah, Mono Serigrafi merupakan penyederhanaan dari Monoprint Serigraphy. Jika dalam seni grafis konvensional, kualitas cetak diukur dari presisi dan keidentikan yang ditandai kode edisi seperti 1/10 atau 1/100, Mono Serigrafi memiliki pendekatan berbeda.
Wahyu menjelaskan ada dua tendensi monoprint. Pertama sebagai Artist Proofing (AP) atau uji coba awal sebelum cetak edisi. Kedua, sebagai eksplorasi estetika baru tanpa mengacu pada kaidah edisi. Pendekatan kedua inilah yang menjadi materi utama di Artsubs.
“Jadi meski mencetak gambar yang sama, setiap peserta akan tetap punya hasil yang personal. Tidak ada yang benar-benar kembar,” katanya.

Sebelum praktik, Wahyu memberikan pengantar singkat sejarah seni grafis, mulai dari teknik cetak timbul (relief print), cetak dalam (intaglio), hingga offset, untuk menempatkan sablon sebagai bagian dari perjalanan panjang seni grafis, bukan sekadar teknik konveksi.
Bagi Wahyu, kedekatannya dengan sablon bermula saat menempuh pendidikan Seni Rupa di ITB pada 2008 dan mengambil spesialisasi Seni Grafis. Lulus pada 2013, ia kembali ke Surabaya pada 2015 dan mendirikan Studio Subtura bersama istrinya yang bergerak di bidang arsitektur, interior, dan branding.
Ia mengaku sempat mencoba sablon sebagai bisnis untuk melayani komunitas dan brand lokal, namun terkendala tenaga terampil. Kini sablon ia kembalikan ke wilayah personal sebagai bahasa artistik.
“Bisa saja saya melukis akrilik, tapi jiwa saya tidak di situ. Saya lebih dekat dengan screen. Kalau dikerjakan sendiri terus, lama-lama bias seperti monolog. Kalau dialog dengan peserta, prosesnya jauh lebih dinamis,” ujar Wahyu yang juga aktif sebagai dosen tamu di Universitas Ciputra Surabaya.
Program publik Artsubs sendiri merupakan bagian dari rangkaian pameran seni kontemporer Surabaya yang tahun ini berpusat di Balai Pemuda. (dd/red)
Tags: artsub, balai pemua, mono serigrafi, seni sablon, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





