Misi Besar Romo Didik Usai Resmi Jadi Uskup di Keuskupan Surabaya

Rudy Hartono - 30 October 2024
R. D. Agustinus Tri Budi Utomo atau Romo Didik sebagai Uskup Baru Keuskupan Surabaya. (foto: niken oktavia/superradio.id)

SR, Surabaya – Gereja Katolik secara resmi mengumumkan RD. Agustinus Tri Budi Utomo (Romo Didik) sebagai Uskup Surabaya dalam Misa Syukur di Gereja Hati Kudus Yesus atau Katedral Surabaya, Selasa (29/10/2024).

Dalam menjalankan amanah ini, Uskup bertekad melanjutkan program-program yang telah dirintis oleh pendahulunya, Monsinyur (Mgr) Vincentius Sutikno Wicaksono, yang telah terencana dalam logframe hingga tahun 2030.Ia memusatkan perhatian pada penguatan komunitas-komunitas kecil di paroki-paroki.

“Jadi, dua tahun kedepan akan fokus menguatkan paroki dulu supaya berbasis kelompok kecil yang hadir di tengah masyarakat. Karena nanti mulai 2027 hingga 2030, gereja harus berani melupakan dirinya dan hadir menjadi pelayan bagi masyarakat,” terangnya.

Dengan motto pro ecclesia et patria, Uskup menekankan pentingnya peran gereja dalam dua hal utama, penerapan teknologi dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Dalam hal ini, gereja mendukung UMKM dan program credit union (CU) sebagai bentuk ekonomi kerakyatan, bukan berbasis kapitalisme tetapi menjunjung tinggi prinsip subsidiaritas dan solidaritas.

“Nah, itu yang kita pentingkan. Bagaimana orang kecil, ayo menabung, dan orang kaya ayo nyumbang orang kecil lewat CU. Bukan ngasih uang orang, tapi memperbesar modal supaya orang kecil bisa pinjam dan mengembangkan usahanya,” tuturnya.

Paus Memilih Risiko Besar

Romo Didik mengaku sesungguhnya ia tak memenuhi persyaratan menjadi uskup. Salah satunya, ia bukan lulusan universitas kepausan dari Roma, Spanyol atau negara lainnya.

“Alasan Paus ada tiga hal (dalam menunjuk Romo Didik sebagai Uskup Surabaya). Satu, hampir semua orang atau 90 persen memilih kamu (Romo Didik). Kedua, Kamu (Romo Didik) mencintai umatmu dan ketiga, umatmu mencintai kamu (Romo Didik), cukup,” kata Romo Didik menirukan pertimbangan Paus.

Bagi Uskup kelahiran tahun 1968 ini, penunjukan tersebut bukan pertimbangannya pribadi dan bukan pertimbangan manajerial dengan spesifikasi Sumber Daya Manusia. Baginya, ini adalah kehendak Tuhan.

“Kalau Paus yang ngomong begitu, saya yakini bahwa itu Roh Kudus. Paus pasti tidak mungkin main main. Karena Uskup harus memegang eksekutif, yudikatif dan legislatif dan itu risikonya sangat tinggi juga penanggung jawab seluruh keuskupan,” jelasnya. “Maka saya menyebutkan, Paus sangat berani untuk memilih saya,” imbuhnya.

Sebagai Uskup, ia menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya mengayomi umat, tetapi juga membimbing para rohaniwan lain yang sebagian besar adalah rekan sejawat atau bahkan seniornya.

“Yang paling berat itu bukan dengan umat, tapi menggembalakan Romo-Romonya itu yang berat bagi saya. Konco-konco (teman-teman) yang sebagian besar adalah senior saya,” akunya.

Namun, ia yakin, bersama-sama bisa menumbuhkan kedewasaan iman di kalangan umat, sekaligus memastikan kehadiran gereja sebagai pelayan di masyarakat.

Meskipun sebagai institusi religius, Uskup menekankan bahwa gereja Katolik adalah bagian dari masyarakat yang sepenuhnya harus terlibat aktif dan berkontribusi untuk kebaikan bersama.

“Menjadi Uskup berarti menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membawa jemaat mencintai masyarakat dan terutama Bangsa Indonesia. Jadi, bagaimana caranya kita bisa aktif ambil bagian dan terlibat di dalamnya,” pungkasnya. (nio/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.