Mengenal Clingy dalam Perspektif Psikologi

Yovie Wicaksono - 27 February 2023
Ilustrasi. Foto : (pexels.com/RODNAE Productions)

SR, Surabaya – Baru-baru ini muncul istilah clingy yang digunakan dalam suatu hubungan. Clingy sendiri adalah kosa kata bahasa Inggris yang memiliki arti bergantung. Atau dengan kata lain orang yang clingy selalu ingin dibantu dan dekat dengan pasangan mereka atau orang terdekat. Dalam bahasa gaul, clingy diartikan orang yang manja.

Namun sebenarnya apa itu clingy? dalam psikologi, clingy adalah orang yang relasinya terlalu tergantung dengan orang lain. Sebenarnya, realitas ini sudah lama ada yang dikenal dengan istilah attachment yang artinya kelekatan.

“Clingy adalah istilah yang baru muncul,” kata Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Michael Seno Rahardanto, Senin (27/2/2023).

Dosen yang lebih akrab disapa Danto itu menjelaskan, ada empat jenis attachment, yaitu secure attachment (kelekatan yang aman), insecure attachment (kelekatan yang tidak aman), avoidant attachment (kelekatan yang menghindar), dan disorganized attachment (kelekatan yang tidak beraturan). Diantara empat jenis attachment tersebut hanya satu yang tergolong sehat, yaitu secure attachment.

Sedangkan avoidant attachment (kelekatan yang menghindar) termasuk dalam jenis yang tidak sehat, karena merasa aman jika sendiri sehingga tidak membutuhkan orang lain.

“Perilakunya menjaga jarak, tidak mau terikat dengan orang lain, berkomitmen, membangun relasi dan menikah. Ini bisa dibilang opposite-nya (lawannya) clingy,” jelas Danto.

Disorganized attachment (kelekatan yang tidak beraturan), Danto menganalogikan jenis attachment tersebut dengan cangkang telur yang rapuh sekali.

“Perilaku yang tidak bisa diprediksi dengan emosi yang naik turun, suatu saat bisa dekat sekali, tetapi tiba-tiba menjauh,” kata dosen yang tengah menyelesaikan studi S3 Psikologi Klinis di Universitas Airlangga.

Clingy merujuk pada insecure attachment sehingga kelekatannya merasa tidak aman dengan orang lain. Ciri perilakunya, tidak percaya diri dengan relasi, hanya ingin menyenangkan orang lain (people pleasure), dan sangat posesif. Ketidakwajaran dari clingy yang ekstrem adalah dia tidak bisa sendirian.

“Macam-macam bentuknya, tapi intinya ia akan merasa tidak aman dalam relasi, ada ketakutan orang lain pergi sewaktu-waktu. karena kecemasan itu, muncul perilaku mengontrol, contohnya ngecek keberadaan orang lain, mengecek hp orang lain, dan cemburuan. Kira-kira seperti itu gambaran umumnya,” jelasnya.

Tanpa adanya validasi atau pengakuan dari orang lain, dia tidak akan merasa aman dan bahagia, landasannya adalah karena kurangnya rasa aman.

Menurut teori, penyebab clingy sebagian besar dari masa anak-anak. Ketika masih belia, mendapatkan pola asuh yang tidak konsisten. Danto mencontohkan, tentang kehadiran orang tua di sisi anak dan kasih sayang yang diberikan.

“Kadang orang tua hadir, kadang tidak. Kadang memberikan kasih sayang kadang juga tidak, jadi tidak dapat diprediksi. Sehingga anak tidak punya kendali akan hal itu, lama-lama anak itu menginternalisasikan (memasukkan) ke dalam jiwanya bahwa orang lain tidak bisa dipercaya,” terangnya.

Dari situ muncul perilaku berusaha untuk selalu mencari kasih sayang dari orang lain, karena ada pandangan bahwa orang lain bisa pergi sewaktu-waktu di luar kontrol mereka.

“Orang yang siap mental adalah orang yang seimbang, di tengah-tengah. Sendirian pun tidak masalah, bisa mandiri, tapi juga senang menikmati dengan orang lain, ini yang sehat,” pungkasnya. (vi/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.