Mahasiswa ITS Tawarkan Biaya Murah Selenggarakan Tradisi Nyadran
SR, Surabaya – Tradisi budaya Indonesia terancam punah akibat beban biaya yang lebih besar daripada pendapatannya. Hal ini mendorong tim PKM-RSH ITS menggagas penerapan akuntansi untuk mendukung keberlanjutan tradisi tersebut.
Rajni Shrinishaa, ketua tim PKM-RSH ITS, menyoroti tradisi Nyadran di Jawa Timur yang hampir punah. Menurutnya, tradisi ini membutuhkan kajian ekonomi dengan menerapkan akuntansi untuk mempertanggungjawabkan biaya yang dikeluarkan.
“Guna menjaga eksistensi budaya tersebut, diperlukan kajian ekonomi dengan menerapkan praktik akuntansi untuk pertanggungjawaban pembiayaannya,” terang Rajni.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran untuk tradisi Nyadran sering melebihi pendapatan yang diterima. Oleh karena itu, perlu adanya strategi untuk mengoptimalkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran dalam kegiatan tersebut.
Tim yang terdiri dari lima mahasiswa Departemen Aktuaria ITS ini menawarkan beberapa strategi. Salah satunya adalah iuran skema cicilan dari masyarakat dan menukar hasil panen untuk mendukung pendanaan acara.
Selain itu, mereka juga menyarankan penggalangan dana melalui sponsor dan program Pesona Nyadran. Menurut Rajni, strategi ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dana yang terbatas.
Selain itu, tim PKM-RSH ITS juga menyarankan penggantian biaya sewa dengan pembelian aset tetap yang lebih efisien. Ini diharapkan dapat menjadi investasi jangka panjang bagi tradisi Nyadran.
“Karena tradisi Nyadran memerlukan berbagai persiapan yang matang, sehingga pembuatan strategi dan program tersebut baru bisa diimplementasikan pada 2025 mendatang,” tambah Rajni.
Rajni menjelaskan bahwa penggunaan aset tetap lebih efisien dan ramah lingkungan, dibandingkan dengan model sewa kostum baru setiap tahun. Hal ini dapat meminimalisir pemborosan anggaran dan memperpanjang masa manfaatnya.
Untuk mempermudah implementasi akuntansi, tim ITS merancang program Macroexcell untuk menghitung lebih akurat beban pengeluaran dan sumber pendapatan. Dengan program ini, hasil analisis lebih tepat dan dapat meminimalkan kesalahan.
Tim ITS juga berencana untuk mengimplementasikan program ini pada tahun 2025. Hal ini dikarenakan tradisi Nyadran memerlukan persiapan matang sebelum penerapan strategi.
Tim ini berhasil meraih medali perunggu pada kategori presentasi dalam ajang Pimnas 2024. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja keras dan kekompakan tim dalam menyelesaikan penelitian dan analisis.
Rajni dan timnya juga menghadapi tantangan saat wawancara dengan masyarakat lokal yang berbicara dalam bahasa daerah. Mereka menggunakan platform daring untuk memahami bahasa dan kemudian memvalidasinya dengan kepala desa.
Dengan segala upaya dan kekompakan, tim PKM-RSH ITS berhasil menyusun solusi konkret untuk mempertahankan tradisi Nyadran. Rajni mengungkapkan bahwa pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka.
“Oleh karena itu, kami menerjemahkan dengan platform daring dahulu untuk arti bahasa dan memvalidasikan kepada kepala desa setempat,”ungkap gadis asal Kalimantan tersebut. (*/rri/red)
Tags: Mahasiswa ITS, manajemen biaya, superradio.id, tradisi nyadran
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




