Libatkan Difabel, Linksos Dorong Ketahanan Pangan Inklusi di Bidang Pertanian

Yovie Wicaksono - 19 September 2022
Pendamping difabel di Linksos, Fuji Rahayu saat membersihkan hama tanaman jagung di lahan pertanian inklusi, Senin (19/9/2022). Foto : (Hamidiah Kurnia/Super Radio)

SR, Malang – Lingkar Sosial (LINKSOS) Indonesia terus mendorong ketahanan pangan untuk para difabel pasca pandemi. Bekerja sama dengan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) V Brawijaya, mereka menggagas pertanian inklusif di kawasan Lapangan Tembak Bedali, Lawang.

Dalam kerjasama ini, Rindam V Brawijaya selaku fasilitator menyediakan bibit tanaman dan lahan tidur seluas 1 hektar untuk digunakan bertani.

“Ini kerja sama antara TNI dengan masyarakat, jadi bukan hanya organisasi. Ada yang lahannya digarap masyarakat, kebetulan lahan ini atas nama organisasi, sekaligus kita mengkampanyekan isu inklusifitas di dunia pertanian,” kata Pembina LINKSOS Indonesia, Kertaning Tyas, Senin (19/9/2022).

Lahan inilah yang nantinya dikerjakan oleh para difabel bersama pendamping untuk ditanami jagung dan sayuran. “Seluruh hasil dari ini panennya diperuntukkan untuk anggota. Jadi Linksos itu organisasi lebih banyak berperan untuk menfasilitasi sekaligus fungsi kontrol,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Pak Ken ini menjelaskan, disamping sebagai penguatan ketahanan pangan, program ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait pertanian inklusif, dan mendukung rehabilitasi mental bagi teman-teman dengan gangguan jiwa.

“Jadi selain ada ketahanan ekonomi, kita mengedukasi masyarakat dan mengadvokasi kebijakan sehingga produk pertanian bisa diakses oleh difabel,” ucapnya.

Pertanian inklusif ini diharapkan bisa memperbaiki sistem pertanian tanah air menjadi lebih ramah difabel dan hasil panennya dapat menjadi penghasilan tambahan bagi teman-teman disabilitas.

“Kami juga mendorong informasi produk penggunaan itu sesuai kemampuan para disabilitas. Misal informasi penggunaan lebih banyak menggunakan gambar agar memudahkan kawan-kawan disabilitas dan kawan-kawan tuli,” tegasnya.

Pembina Linksos Indonesia, Kertaning Tyas saat mencangkul di lahan pertanian inklusi, Senin (19/9/2022). Foto : (Hamidiah Kurnia/Super Radio)

Pendamping difabel di Linksos, Fuji Rahayu senang dengan kegiatan ini. Ia tak merasa kesulitan selama mendampingi dan mengarahkan saat bertani. Mereka juga telah dibagi, untuk mengerjakan tugas sesuai kemampuan masing-masing.

“Selama ini gak ada kesulitan saat mendamping dan saling mengerti. Misal kalau yang bisa mencabut rumput ya cabut rumput, cuman kalau difabel intelektual kan semaunya sendiri nah kita mengalihkannya supaya gak berbahaya untuk mereka, dicari caranya supaya gak tersinggung,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan Dwi, seorang disabilitas intelektual yang ikut mencangkul lahan untuk bertani.  Ia mengatakan, pengalaman pertamanya dalam pertanian ini, justru menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu.

“Baru pertama mencangkul, seneng ikut gini biar badan sehat, di rumah juga nganggur. Tad sudah mulai macul dari pagi, besok lanjut lagi,” katanya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.