“Lelaku” Singkirkan 29 Karya Film Pendek di Sacra Cinema Keuskupan Surabaya 2025

Rudy Hartono - 8 June 2025
oppo_0

SR, Surabaya –Sacra Cinema, ajang festival film pendek Keuskupan Surabaya 2025,  kembali digelar untuk kali kedua. Perhelatan Sacra Cinema 2025 kian menarik dan semarak. Pasalnya karya yang dikompetisikan semakin banyak dengan kualitas yang jauh lebih baik.

“Karya-karya yang masuk ada 30 film lebih banyak dari Sacra Cinema 2024 waktu itu ada 21 film. Pesertanya juga beragam dari paroki,  stasi,  sekolah katolik, pemuda katolik dan seminari-seminari. Ini luar biasa dan sangat menggembirakan,” terang RD Robertus Theo Elno Respati atau akrab disapa Romo Theo, selaku Ketua Komisi Komsos Keuskupan Surabaya, saat konferensi pers di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Sabtu (7/6/2025).

Kiri ke kanan; Ignatius Dedi, Romo Theo dan Indri, tim juri administratif sekaligus panitia pelaksana Sacra Cinema Keuskupan Surabaya 2025 saat konferensi pers di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Sabtu (7/6/2025). (foto:rudy hartono/superradio.id)

Dalam Awarding Sacra Cinema Keuskupan Surabaya 2025 ada 30 karya film dalam bentuk film fiksi dan film dokumenter yang memperebutkan juara sebagai aktor serta aktris terbaik, sinematografi terbaik, film dokumenter dan film fiksi terbaik.

“Dalam penjurian karya film Sacra Cinema ada dua tim. Tim pertama seleksi administratif didasari persyaratan yang diajukan panitia. Tim pertama terdiri dari Romo Theo, Ignatius dan Indri. Penentuan nominasi dan pemenang diselesaikan oleh tiga dewan juri yang expert di bidangnya,” terang Romo Theo didampingi Ignatius Dedi, dan Indri.

Romo Theo, Lusia Christina, dosen Universitas Ciputra Surabaya; Merlina Barbara Apul, dosen Ilmu Komunikasi UKWMS, dan Enos Aditya Saputra, seorang film maker. Ketiganya Dewan juri Sacra Cinema 2025. (tangkapan layar youtube)

Riset Mendalam

Untuk penilaian akhir karya film itu ditentukan oleh kepada dewan juri terdiri atas: Enos Aditya Saputra, seorang film maker, director dan sutradara film; kemudian Lusia Christina, dosen Universitas Ciputra Surabaya yang juga alumnus Vikom UKWMS dan  berkali-kali selenggarakan festival film; juri ketiga Merlina Barbara Apul, dosen Ilmu Komunikasi UKWMS yang sering membuat naskah cerita film. “

Mengingat bahwa dewan juri bersama-sama telah secara keseluruhan menyaksikan “Dewan juri secara keseluruhan telah menyaksikan ke 30 film karya para peserta yang masuk. Dan tentu saja saya ikut mendampingi dalam proses yang seru bahkan ada perdebatan untuk memutuskan karya terbaik,” tambah Romo Theo.

Dalam awarding itu diumumkan karya film dokumenter terbaik dimenangkan filem berjudul  Lelaku karya Stasi St Karolus Sumber Bening, Ngrambe, Kabupaten Ngawi). Sedangkan  film fiksi terbaik diraih oleh film berjudl Nada Cita Gita  karya Paroki Kristus raja Surabaya.

“Seluruh karya yang masuk sungguh bagus-bagus, yang menarik Sacra Cinema 2025 kali pertama mengkompetisikan film dokumenter, dan harus diakui hasil keren sekali karena film dokumenter itu harus didasari riset dan karya-karya yang dikirim risetnya sangat detil,” puji Merlina Barbara Apul usai penyerahan award.

Film Ubah Pola Pikir Manusia

Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo saat pembukaan Awarding Sacra Cinema Keuskupan Surabaya 2025. (foto:rudy hartono/superradio.id)

Peningkatan jumlah karya film yang di-festivalkan itu tak pelak mendapat respons positif Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo saat membuka awarding (pengumuman pemenang) dari Sacra Cinema 2025.  Uskup memuji dan mendorong agar program Sacra Cinema dilanjutkan dan dikembangkan lebih luas lagi.

“Awarding Sacra Cinema ini diharapkan  bisa men-trigger (memacu) Komsos lebih produktif dan serius membuat film. Untuk produksi film jangan mengandalkan alatnya dulu. Mulailah memakai HP (hand phone), bikin film pendek atau sangat  pendek, film 1 menit, film 15 menit, hingga lama-lama akan bisa lebih baik baru alat diperlengkapi lebih lanjut,” pesan Uskup Didik.

“Saya pernah ungkapkan kepada Romo Theo, alangkah indahnya nanti ke depanmasing-masing paroki membuat profil film pendek, film dokumenter tentang stasi atau tentang tokoh, tentang rasul awam yang bisa diangkat menjadi media pewartaan. Karya film itu bisa mengubah pola pikir manusia. Film bisa sebagai  kesaksian hidup bagi umat di Keuskupan Surabaya dan bahkan seluruh dunia,” imbuhnya.

Ia juga berharap Komsos membantu mengembangkan peningkatan kualitas produksi film. Untuk itu diperlukan pelatihan ketrampilan guna peningkatan kapasitas para film maker di Keuskupan Surabaya.  Ketrampilan yang perlu ditingkatkan seperti  script, cinematografi, penyusunan alur, angle, pengisian musik, editing dan sebagainya. “Siapa tahu dari peserta Sacra Cinema Keuskupan Surabaya ini nantinya lahir tokoh perfilman nasional. Kalau Tuhan mau dan kalian juga mau, pasti bisa,” tandas Uskup Didik.

Rangkaian festival film Sacra Cinema tahun 2025 ini dibuka dengan pemutaran perdana film dokumenter berjudul “Jejak Kasih Modik”. Film yang berkisah tentang perjalanan dan kepedulian Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo merangkul kaum papa, difabel, dan menderita.

Selanjutnya seluruh peserta mendapatkan tambahan ilmu sekaligus praktek tentang Pembuatan Film Dokumenter yang menghadirkan produsen film dokumenter: Riandhani Yudha Pamungkas, cineas nasional yang pernah tampil di Festival Internasional Cannes di Prancis.

Adapun pengumuman pemenang Sacra Cinema Keuskupan Surabaya 2025 dilakukan hari yang sama, sore. Dan acara ditutup nonton bareng film dokumenter berjudul “Jejak Kasih Modik” yang kedua kalinya yang dihadiri ratusan umat Katolik di Auditorium UKWMS malam. (ton/red)

 

 

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.