Ki Yohan Susilo Cipratkan ‘Darah’ di Panggung Gagrak Porongan
SR, Sidoarjo – Ki dalang Yohan Susilo tampil paripurna di pagelaran wayang kulit Gagrak Porongan putaran ke 11 di areal situs Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (8/11/2025).
Membawakan lakon “Kresno Gugah” atau “Temurune Pakem Jitabsara”, Ki Yohan berhasil memukau ratusan penonton yang hadir, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Tirto Adi dan sejumlah tamu undangan dari Forkopimca Sidoarjo.
Di menit awal, Ki Yohan SPd MPd yang juga berprofesi dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sudah memainkan gunungan dengan apik yang sarat teknik sabetan, serta permainan cahaya dan diiringi musik gamelan dipadu keyboard, menciptakan suasana dramatis. Bahkan di awal cerita, Ki Yohan memperagakan adegan pertarungan sengit dimana wayang seolah-olah bisa mengeluarkan ‘darah’ saat terluka atau terkena senjata tajam. Sesekali juga muncul asap buatan di layar menambah dramatisasi cerita.

Selain sabetan, inovasi pada musikal maupun atraksi peragaan wayang kulit, Ki Yohan yang juga Ketua Paguyuban Ringgit Jawa Timuran (Parijati) itu mempunyai vokal suara yang jelas, pemilihan bahasa Jawa yang mudah dipahami penonton meski disampaikan dalam kromo inggil sekalipun. Tinggi-rendah suara Ki Yohan juga terukur, sesekali ia bertutur dengan suara menggelegar saat ekpresikan peran amarah. Atas penampilan Ki Yohan yang atraktif dan inovatif itu penonton nyaris enggan beranjak dari tempat duduknya.
Lakon “Kresno Gugah” pada dasarnya menceritakan pertarungan kebenaran yang direpresentasikan kubu Pandawa melawan Kurawa sebagai pihak kebatilan dalam cerita Mahabarata. Dalam perang yang relatif seimbang itu diperlukan sosok penentu kemenangan yakni Kresna. Baik Pandawa dan Kurawa sama-sama ingin merekrut Kresna dipihak mereka. Namun saat itu Sri Kresna yang sedang bersemedi tidak ada yang bisa membangunkannya (menggugah). Namun Kresno akhirnya bisa terbangun dari semedinya untuk membela kebenaran.

Ketua Paguyuban Sendang Agung, Siswa Adi Cahyono memuji penampilan apik Ki Yohan yang memukau. Ia sebelumnya tidak mengenal Ki Yohan, kecuali hanya mendengar nama Ki Yohan dari salah seorang mahasiswa Unesa saat melakukan observasi tugas akademis di Sendang Agung, sebulan lalu. “Tidak disangka Ki Yohan datang langsung ke Sendang Agung tiga hari sebelum acara gagrak, bahkan kami sempat bercengkrama cukup lama,” kata pria yang akrab disapa Siswo.
Tidak hanya kedatangan dalang kondang yang membuat Siswo surprise, melainkan juga agenda pelaksanaan wayang kulit yang mendadak. “Saya sungguh harus bersyukur pada Allah, saya awalnya mengusulkan penyelenggaraan wayang kulit di Sendang Agung untuk tahun 2026, tak disangka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan malah setuju dan menyiapkan pagelaran dalam waktu seminggu. Perasaan campur aduk ya senang tapi ya khawatir, tapi kami nyatakan siap menggelar acara kapan saja,” ungkap Siswo.
Nonton Wayang lewat Streaming
Atas penampilannya, Ki Yohan mengaku telah menekuni seni wayang kulit sejak kecil mengikuti jejak ayahnya, Ki Rukmo, yang juga seorang dalang. Penampilannya saat manggung dalam usaha untuk bisa menghibur sekaligus menyelipkan pesan moral positif kepada penontonnya. Dosen Sastra Jawa Unesa itu sadar bahwa era terus berganti dan berubah, maka diperlukan inovasi dan kreasi agar seni wayang kulit tetap disukai dan ditonton.

“Era teknologi dan internet tidak bisa dihindari. Zaman sudah berubah maka dalang juga harus ikuti perkembangan zaman. Nonton wayang tak harus dilokasi, bisa live streaming melalui media sosial. Saya main live youtube sudah 5 tahun ini,” ungkap pimpinan Capursari Langgeng Budaya itu, ”Sekarang teknologi sudah maju, saya juga sematkan sedikit teknologi agar anak muda mau melirik kesenian ini, misal wayang keluarkan darah. Inovasi-inovasi kecil diperlukan agar wayang kian disukai masyarakat, termasuk anak muda,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Tirto Adi menyebut bahwa Ki Yohan salah satu dalang terbaik yang dimiliki Sidoarjo. Dedikasi Ki Yohan dalam berkesenian di dunia pewayangan tak diragukan, bahkan anak dan istrinya juga menekuni dunia kesenian pewayangan.
“Setahu saya, Pak Johan adalah salah satu dalang terbaik yang dimiliki Sidoarjo. Beliau boleh dibilang dalang yang paling inovatif dan kreatif,” kata Tirto saat memberi kata sambutan,” Pak Johan ini dedikasinya luar biasa, istri dan anak Pak Yohan aktif sebagai sinden dan juga waranggana,” imbuhnya.
Dijelaskan Tirto, awalnya Dinas Dikbud ingin menggelar wayanag Gagrak Porongan di seluruh 18 kecamatan di sidoarjo. Namun karena ada efisiensi anggaran pemerintah, maka yang dikabulkan hanya 12 titik, sama dengan program wayangan 2024. Dikbud mencoba usulkan lagi untuk PAK (perubahan anggaran keuangan) 2025, sayangnya penambahan titik wayang belum disetujui pemerintah. “Jadi saya mohon doanya kepada bapak-bapak dan ibu-ibu, mudah-mudahan tahun 2026 nanti (Gagrak Porongan) bisa digelar di 18 kecamatan di sidoarjo,” ajak Tirto.

Program Ludruk 2026
Dalam kesempatan itu pula Tirto mengatakan niatnya untuk lebih mengembangkan budaya tradisional Sidoarjo. Diungkapkannya untuk program 2026, selain mengusulkan lagi wayang kulit Gagrak Porongan, Dikbud juga akan mengangkat kesenian tradisional lainnya agar semakin menguatkan seni budaya Sidoarjo.
“Sejatinya Sidoarjo ini kaya akan seni budaya tradisional. Tahun depan yang saya usulkan tidak hanya wayang tapi juga saya usulkan pementasan ludruk. Tujuannya mengembangkan dan melestarikan seni budaya Sidoarjo, tujuan pemerataan cegah kecemburuan,” ungkap Tirto, “Jadi nanti satu per satu akan kami lestarikan dan dikembangkan. Siapa lagi yang akan mengembangkan jika bukan kita?” tandasnya.

Diusulkannya lagi wayang kulit Gagrak Porongan dalam rencana program 2026, Tirto meyakini kesenian wayang kulit itu banyak sekali tuntunannya, tidak hanya sekedar menjadi tontonan. Di dalam wayang kulit memuat berbagai watak dan karakter manusia, baik-buruk, kejam-welas asih, dan sebagainya. “Semua karakter ada pada tokoh tokoh pewayangan. Nilai-nilai karakter itu bisa dielaborasi yang nanti akan bisa menguatkan akhlak kita, menguatkan budi pekerti kita,” terang Tirto.
Tidak lupa, Tirto juga berterimakasih kepada Bupati Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana yang telah mensupport kegiatan wayang Gagrak Porongan agar terus tumbuh dan berkembang . “Kami mewakili segenap pegiat seni selalu mendoakan bupati dan wakil bupati senantiasa sehat dan rukun selalu demi kemajuan Sidoarjo,” (ton/red)
Tags: gagrak porongan, ki yohan susilo, sidoarjo, superradio.id, tirto adi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





