Keterwakilan Perempuan di Dunia Politik Penting untuk Bangsa

Yovie Wicaksono - 24 January 2022

SR, Surabaya – Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Wiwik Afifah mengatakan, keterwakilan perempuan di seluruh sektor perlu terus ditingkatkan, terutama di bidang legislatif dan eksekutif.

Menurutnya, selama ini, partisipasi perempuan di bidang legislatif masih rendah. Dibanding target kuota 30 persen yang ditetapkan pemerintah pusat, keterlibatan perempuan baru mencapai  11-16 persen saja.

“Ini jadi refleksi bahwa memperjuangkan keterwakilan perempuan masih harus dilakukan,” ucap Wiwik saat menjadi pembicara di Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bertema “Peningkatan Kapasitas Kader Politik Perempuan” di Gedung Widya Kartika, Minggu (23/1/2022).

Padahal, lanjutnya, peran tersebut sangat penting. Jika hal itu bisa dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan, kesejahteraan yang berkeadilan gender akan tercapai dan tidak ada lagi ketimpangan relasi kuasa.

Relasi kuasa sendiri, merupakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kekuasaan langsung, tidak langsung, dan kekuasaan mengatur agenda. Seperti pada norma, pranata sosial, dan tokoh masyarakat.

“Ketika dia jadi pejabat publik, dia harus membawa perubahan terhadap nasib perempuan. Ketika nasib perempuan berubah, maka yakinlah nasib keluarganya akan berubah,” jelasnya.

“Jadi keaktifan perempuan dalam perencanaan pembangunan hingga implementasi dan evaluasi itu jadi penting,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh Peneliti Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Surabaya (Pusham Ubaya), Dian Noeswantari. Ia mengatakan, antara laki-laki dan perempuan sebetulnya memiliki kesetaraan, namun hal tersebut terganjal oleh persoalan norma dan budaya.

“Kesetaraan itu ada tapi tidak semua orang paham. Jadi ada ajaran tertentu yang ternyata relasi kuasanya tidak imbang, dan menyebabkan perempuan tidak berdaya,” kata Dian Noeswantari, yang juga menjadi pembicara di acara tersebut.

Untuk itu, lanjutnya, penting adanya edukasi kepada masyarakat bahwa perempuan bukan sekadar konco wingking, melainkan lebih berdaya dalam seluruh lini kehidupan.

“Edukasi itu harus mulai dengan pendekatan, bahwa meski anak perempuan itu nantinya akan mengurus keluarga, tapi dia tetap harus disekolahkan setinggi mungkin, semampu orang tua masing-masing. Kalau tidak mampu bisa cari informasi tentang beasiswa,” ujarnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.