Kekerasan pada Anak, Lingkaran Setan yang Berulang

Yovie Wicaksono - 13 August 2021

Apa Yang Harus Dilakukan?

Ilustrasi

Dari kekerasan yang dialami anak, tentu menimbulkan dampak psikologis kepada korban yang dalam hal ini adalah anak.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto mengatakan, anak-anak yang mengalami kekerasan, baik fisik maupun verbal akan cenderung mendapatkan trauma yang dramatis. Anak akan kehilangan rasa kepercayaan terhadap dunia, dan merasa dunia itu sangat menakutkan dan mencelakakan.

“Sehingga rasa percaya bahwa dunia ini masih aman dan masih ada orang yang bisa dipercaya, itu yang harus ditumbuhkan pertama-tama. Karena bagaimanapun juga ini anak yang perkembangan psikologisnya dianggap belum dewasa,” ujarnya.

Mereka yang menjadi korban, umumnya mengalami gejala trauma yang berbeda tergantung pada rentang usia. Dimana pada anak usia prasekolah, bentuk traumanya adalah banyak menangis, enggan makan, atau mengalami mimpi buruk.

Kemudian anak usia sekolah dasar, beberapa ciri yang teridentifikasi adalah merasa cemas atau ketakutan, kemudian susah berkonsentrasi, dan sulit tidur. Lalu di usia SMP/SMA, bentuk traumanya akan lebih ekstrem, seperti rasa depresi, murung, dan mulai melukai diri sendiri.

Jika tanda-tanda trauma sudah timbul, maka yang diperlukan adalah kepekaan dari orang terdekat untuk menyadari hal tersebut, karena biasanya anak yang mengalami trauma tidak akan menceritakan kejadian yang dialami. Maka orang terdekat yang dalam konteks ini adalah orang dewasa, harus melakukan pendekatan dan meyakinkan serta memberikan dukungan kepada anak bahwa dirinya aman secara fisik dan psikologis.

“Di jaman sekarang anak-anak banyak yang cenderung individual dan diam, sehingga saat mengalami trauma juga tidak bercerita, itu memang menjadi tantangan tersendiri. Begitu kita mengidentifikasi dan melihat traumanya memang ada, kita bisa memberikan pertolongan sesuai batas kemampuan kita,” katanya.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah meyakinkan anak bahwa dia aman secara fisik dan psikologis, dan cara meyakinkannya tergantung usia anak.

“Saat anak merasa ingin menangis, ingin marah kita tunjukan bahwa itu wajar. Kemudian dalam beberapa kasus, kita juga perlu menjelaskan kepada anak, dia mengalami kejadian traumatis itu bukan karena salahnya dia,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Danto ini menambahkan, hal yang dibutuhkan anak saat dia terpuruk adalah dukungan dari orang-orang terdekat, orang yang dipercayai, dan ini juga tergantung situasi. Jika misalnya pelaku kekerasan adalah orang tua, maka otomatis dukungannya adalah orang-orang yang masih dianggap dekat oleh sang anak.

Kemudian, setelah anak merasa nyaman dan dapat bercerita terkait kekerasan yang dialami, maka pendamping korban dapat mengamankan anak dari pelaku, membantu anak menghilangkan trauma, agar nantinya anak dapat bangkit dari keterpurukan.

Namun perlu diperhatikan, dalam berjalannya proses ini, juga tidak disarankan melakukan konfrontasi ke pelaku karena itu bisa membahayakan korban. Apalagi jika pelaku adalah orang terdekat korban. Misalnya pada kasus pelecehan seksual.

Selanjutnya, ia menegaskan, setiap anak memiliki jangka waktu pemulihan yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih cepat dan ada yang memakan waktu bertahun-tahun, bahkan ada yang tidak bisa sembuh. Oleh karena itu pada proses ini diperlukan kesadaran dan pengertian dari pendamping korban.

“Ini juga mungkin ada faktor dari kekurang cocokan dengan figur penyembuhnya. Yang kita tahu, kita harus sabar, kesembuhan itu tidak bisa terjadi dalam waktu singkat tetapi bisa terjadi dalam waktu yang lebih cepat, tiap anak berbeda-beda,” ucap Danto.

Dalam proses tersebut, disarankan untuk mempercayakan korban kepada profesional yang berfokus pada anak dan penyembuhan trauma. Seperti psikolog, konselor, dan NGO yang fokus dalam pendampingan anak. (hk/fos/red)

Tampilkan Semua

Tags: , , , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.