Kecelakaan di Perlintasan Sebidang Meningkat, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kepatuhan

Yovie Wicaksono - 13 January 2022
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas pada perlintasan kereta api (KA) sebidang, masih menjadi salah satu fokus perhatian dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya.

Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Luqman Arif mengatakan, hingga akhir tahun 2021, jumlah kecelakaan mencapai 59 kasus, meningkat dibanding tahun 2020 yang berada di angka 50 kasus. 

Berdasarkan kasus tersebut, rata-rata disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam menaati peraturan terkait perlintasan kereta api sebidang.

“Di tahun 2021 kemarin secara umumnya tingkat kecelakaan meningkat. Kami juga menyayangkan kejadian tersebut,  apalagi sampai timbul korban jiwa,” ucap Luqman Arif, Rabu (12/1/2022).

Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai upaya guna meningkatkan kesadaran masyarakat atas kepatuhan pada rambu-rambu yang telah disediakan. Mulai dari bekerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub), melakukan sosialisasi ke kawasan rawan kecelakaan, hingga menutup 19 titik cikal bakal perlintasan liar.

“Untuk mensosialisasikan itu, kami di tahun 2021 sudah melakukan upaya preventif. Bekerja sama dengan Dishub di masing-masing kabupaten/kota di Daop 8. Mudah-mudahan kegiatan tersebut juga disambut dengan kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Sekadar informasi, dalam Pasal 296 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) berbunyi bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu rupiah.

Sementara pasal 114 juga menyebutkan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur KA dan jalan, pengemudi wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi dan palang pintu KA sudah mulai ditutup, serta wajib mendahulukan kereta api.

Maka dari itu Luqman menegaskan, ketika sudah ada tanda-tanda mendekati perlintasan sebidang KA, setiap pengguna jalan diharuskan untuk mengurangi kecepatan dan berhenti.

“Tengok kanan-kiri untuk memastikan tidak ada kereta yang akan melintas. Jika ada kereta yang akan melintas, maka pengendara wajib mendahulukan perjalanan kereta api,” katanya.

Aturan tersebut juga sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 124 yang menyatakan bahwa pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Palang pintu, alarm yang terdapat dalam alat EWS (Early Warning System) dan petugas penjaga pintu, itu semua hanyalah alat bantu keamanan semata. Alat utama yang harus dipatuhi oleh pengguna jalan raya ketika akan melintas di perlintasan sebidang adalah rambu – rambu lalu lintas. Rambu lalu lintas yang menjadi alat vital tersebut adalah rambu lalu lintas dengan tulisan STOP  warna putih, berbentuk segi enam dan berwarna dasar merah. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.