Kasus Demam Berdarah Surabaya Jadi Perhatian Jelang Musim Hujan

Rudy Hartono - 30 October 2026
Ilustrasu

SR, Surabaya – Dinas Kesehatan Kota Surabaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penyakit pada musim hujan, terutama demam berdarah dengue (DBD). Upaya ini dilakukan melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan serta pelibatan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan jentik di lingkungan rumah.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Surabaya Yusli Aidil, mengatakan sejumlah penyakit perlu diwaspadai saat musim hujan, di antaranya DBD, tifoid, diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, chikungunya, dan leptospirosis.

Di Surabaya, DBD menjadi salah satu perhatian utama karena berdasarkan pola pada tahun-tahun sebelumnya, kasus cenderung meningkat pada awal tahun.

“Kalau berdasarkan tahun-tahun sebelumnya, biasanya kasus DBD meningkat di awal tahun, terutama Februari, Maret, dan April. Kemudian mulai menurun pada Mei, Juni, Juli, dan seterusnya,” kata Yusli, Kamis (29/10/2026)

Ia menyampaikan, jumlah kasus DBD di Surabaya pada 2026 sejauh ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Meski demikian, kesiapsiagaan tetap dilakukan melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kita sudah melakukan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan di seluruh puskesmas, klinik, dan rumah sakit sebagai salah satu upaya peningkatan kewaspadaan pada musim penghujan ini,” ujar Yusli.

Selain kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, upaya pencegahan juga dilakukan bersama Kader Surabaya Hebat melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus dan program satu rumah satu jumantik. Program ini mendorong setiap keluarga ikut memantau jentik nyamuk di rumah masing-masing.

Yusli menjelaskan, keterlibatan keluarga penting untuk memastikan pemantauan jentik dilakukan secara rutin dan tidak hanya bergantung pada kader maupun petugas kesehatan. Warga diharapkan memeriksa tempat penampungan air dan lokasi lain yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Dari sisi epidemiologi, dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Atik Choirul Hidajah menjelaskan bahwa perubahan musim dapat memengaruhi pola penyakit di masyarakat. Epidemiologi mempelajari masalah kesehatan dengan memperhatikan keterkaitan antara manusia, lingkungan, dan agen penyebab penyakit.

Atik menerangkan, hujan dapat menambah tempat perkembangbiakan nyamuk, terutama ketika air tertampung di wadah atau lokasi yang sebelumnya kering. Kondisi tersebut memungkinkan nyamuk bertelur dan melanjutkan siklus hidupnya.

“Ketika ada air hujan yang tertampung, nyamuk bisa bertelur dan melanjutkan siklus hidupnya,” jelas Atik.

Ia juga mengingatkan bahwa risiko penularan DBD berkaitan dengan keberadaan orang yang terinfeksi di lingkungan sekitar. Nyamuk yang membawa virus dapat menularkan penyakit kepada orang lain sehingga pencegahan perlu dilakukan dengan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk.

“Kalau ada orang yang terkena DBD, nyamuk dapat menularkan penyakit itu kepada orang lain di lingkungan sekitarnya,” kata Atik.

Selain DBD, Atik mengingatkan risiko leptospirosis ketika hujan deras menyebabkan banjir. Penyakit ini dapat menular melalui paparan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, termasuk tikus. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati ketika beraktivitas di area banjir dan menghindari kontak dengan air yang berpotensi tercemar.

Penyakit pernapasan juga perlu diwaspadai, terutama ketika banyak orang berkumpul di ruangan tertutup dengan ventilasi yang kurang baik. Dalam kondisi tersebut, penularan dapat terjadi apabila terdapat orang yang sedang terinfeksi.

Risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air juga perlu diperhatikan. Penggunaan air yang tidak bersih untuk mencuci peralatan makan, disertai sanitasi yang buruk, dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan gangguan pencernaan, termasuk diare.

Atik menegaskan, kewaspadaan menghadapi musim hujan perlu disertai pencegahan sesuai faktor penyebab penyakit. Menjaga kebersihan lingkungan, mencegah genangan air, memastikan kebersihan makanan dan air, serta memperhatikan sirkulasi udara merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit. (*/rri/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.