Kampung Wisata Tenun Ikat, Edukasi Pengunjung Produksi Kain Tenun

Yovie Wicaksono - 22 December 2019
Kampung Wisata Pasar Rakyat Tenun Ikat. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Dalam rangka peresmian Kampung Wisata Pasar Rakyat Tenun Ikat di Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, belasan pengrajin tenun ikat siap memberikan edukasi kepada sejumlah pengunjung wisatawan maupun costumer yang datang ke lokasi tersebut, Sabtu (21/12/2019).

Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka mencoba mengeksplore tentang bagaimana proses pembuatan kain tenun ikat.

Dijelaskan, proses pembuatan kain tenun ikat terbagi dalam beberapa tahapan diantaranya proses pembuatan lungsi atau keteng dan pembuatan umpan atau pakan.

Dari semua proses mekanisme yang dilalui, diketahui semuanya dilakukan secara manual dengan menggunakan peralatan tradisional tanpa bantuan peralatan mesin.

Kegiatan persemian Kampung wisata Pasar Rakyat Tenun ikat ini, akan dilaksanakan selama dua hari.

Kepala Disbudparpora Kota Kediri Nur Muhyar menilai kain tenun ikat memiliki nilai historis sebagai warisan budaya yang memiliki ciri khas khusus. Mulai dari tekhnik pembuatanya secara manual dan peralatan yang digunakan keseluruhan memakai peralatan konvensional tanpa bantuan mesin.

“Karena itu Pemerintah Kota mengangkat tenun ini sebagai daya tarik wisatawan,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan jika kampung tenun ikat ini secara nasional sudah banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Kedepan, pihak Pemerintah Kota Kediri akan terus berinovasi mencari terobosan untuk lebih mempopulerkan kain tenun ikat.

Sejauh ini, upaya yang sudah dilakukan diantaranya adalah mengenalkan kain tenun ikat melalui pergelaran event tahunan Dhoho Street Fashion.

“Kedepan kita cari lagi desainer yang lebih banyak lagi bisa berkolaborasi dalam acara itu. Saya tadi juga berpesan kepada mereka (pemilik usaha tenun ikat) agar tetap menjaga mutu kualitas yang sudah ada,” ujar Wali Kota Kediri.

Ia menilai, Kelurahan Bandar Kidul bukan hanya sekedar dikenal sebagai kampung produksi tenun ikat lagi, melainkan sudah masuk ke kampung wisata.

“Dapur mereka sudah terbuka, artinya mereka menenun sudah bisa dilihat dan si costumer bisa cobain. Jadi bukan industri lagi, bukan kampung pengerajin lagi tetapi kampung wisata,” paparnya.

Selain edukasi tentang cara membuat tenun ikat, dipamerkan juga hasil produksi pengrajin tenun yang sudah jadi dan siap jual antara lain sarung, baju batik tenun ikat dan lain sebagainya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.