Kampung Jemur Gayungan Rata Tanah, Flyover Taman Pelangi Siap Dibangun

Rudy Hartono - 21 January 2026
Area eks Kampung Jemur Gayungan RT 01/RW 03 Surabaya rata tanah persiapan lahan flyover Taman Pelangi, Senin (19/1/2026). ( foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Suasana di area Kampung Jemur Gayungan (RT 01/RW 03) yang berdempetan dengan Taman Pelang  Surabaya, berubah drastis, Senin (19/1/2026). Deretan rumah yang dulu berdiri rapat kini telah rata dengan tanah. Puing-puing bangunan berserakan, menyisakan debu dan kenangan. Kampung yang selama bertahun-tahun menjadi ruang hidup warga kini tinggal hamparan kosong, menandai berakhirnya satu babak panjang kehidupan mereka.

Penggusuran ini merupakan bagian dari proyek pembangunan Flyover Taman Pelangi yang digagas Kementerian PUPR. Flyover (jembatan layang) tersebut diharapkan menjadi solusi atas kemacetan kronis di jalur utama Surabaya Selatan. Namun, di balik rencana besar itu, tersimpan kisah kecil penuh emosi dari warga yang harus meninggalkan kampung mereka.

Sejak awal Januari, enam keluarga pertama telah menerima ganti rugi melalui Pengadilan Negeri Surabaya. Proses pencairan dana ini menjadi titik terang setelah penantian panjang. Dengan uang ganti rugi di tangan, warga mulai mengemas barang-barang, menutup pintu rumah untuk terakhir kalinya, dan mencari hunian baru.

Pada lahan yang sudah diratakan, hanya tersisa kenangan. Jalan-jalan kecil yang dulu ramai oleh obrolan tetangga dan suara anak-anak bermain, berubah menjadi hamparan kosong. Atmosfer nostalgia begitu kuat, seolah setiap sudut masih menyimpan cerita yang tak sempat dituliskan.

Dokumentasi Area Kampung Jemur Gayungan RT 01/RW 03 Surabaya sebelum pembebasan lahan untuk flyover Taman Pelangi. (foto: net)

Pemerintah Kota Surabaya menegaskan bahwa pembongkaran seluruh rumah di Taman Pelangi ditargetkan rampung pada Januari ini. Wali Kota Eri Cahyadi, saat meninjau lokasi pada 15 Januari 2026, menyatakan: “Alhamdulillah semua bangunan yang ada di Taman Pelangi ini sudah dikonsinyasi dan sudah menerima uang. Jadi hari ini kita tuntaskan perobohan untuk seluruh bangunan rumah.” Pernyataan tersebut dilansir dari Portal Pemkot Surabaya

Meski berat, sebagian warga mulai menatap ke depan. Mereka berharap proyek ini benar-benar membawa manfaat nyata, bukan hanya bagi lalu lintas kota, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di kawasan sekitar. Harapan itu menjadi penguat di tengah kehilangan yang mereka rasakan.

Taman Pelangi kini tinggal nama. Namun, kisah penggusuran ini menjadi pengingat bahwa pembangunan selalu menyisakan jejak manusia: rasa kehilangan, adaptasi, dan harapan. Di atas tanah yang rata, Surabaya bersiap menulis babak baru, sementara kenangan kampung tetap hidup di hati mereka yang pernah menyebutnya rumah. (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.