Jasa Penukaran Uang Sepi Omzet Akibat Pandemi

Yovie Wicaksono - 8 May 2021
Jasa Penukaran Uang Sepi Omzet Akibat Pandemi. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Jelang hari raya Idulfitri 2021, penyedia jasa penukaran uang baru mulai marak. Seperti yang terlihat di sepanjang Jalan Bubutan hingga Jalan Pahlawan, Surabaya, Sabtu (8/5/2021).

Para penyedia jasa penukaran uang terlihat berjajar di seberang Tugu Pahlawan sembari menawarkan uang baru pecahan Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp. 75.000 hingga Rp 20.000 yang masing-masing terkemas dalam plastik kepada para pengendara kendaraan yang melintas.

Salah satunya adalah Ilah. Perempuan asal Madura yang kesehariannya berjualan pentol di Jalan Kusumo ini, telah 14 tahun berprofesi sebagai jasa penukaran uang musiman di tiap Ramadan. Ilah membuka lapak penukaran uang baru mulai 08.00 – 22.00 WIB sejak dua hari Ramadan hingga Lebaran.

“Biasanya jualan pentol, tapi kalau tiap mau lebaran gini libur, ganti jadi jasa penukaran uang bareng sama suami di sini. Sudah sejak 2007,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk tahun ini jasa penukaran uang tergolong sepi dibandingkan tahun 2020. Padahal, tahun lalu adalah awal mulai merebaknya pandemi Covid-19.

“Tahun kemarin saya stok 150 juta dan ramai sekali meskipun masih awal-awal muncul corona, nah tahun ini ngiranya bakal lebih ramai jadi stok 300 juta. Eh ternyata sekarang sepi sekali,” ujarnya.

“Tapi ya tetap disyukuri saja, karena ini kan pasti berdampak bukan hanya pada kita saja, semua juga merasakan hal yang sama karena adanya pandemi corona,” sambungnya.

Ia mengatakan, dulu dalam satu hari minimal menerima penukaran uang baru Rp 500.000, namun kini hanya Rp 300.000. Adapun pecahan yang paling banyak diburu adalah Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun RI (UPK 75 Tahun RI) atau uang khusus pecahan Rp 75.000.

Ilah mengatakan, untuk setiap transaksi, pelanggan dikenakan biaya sebesar 10 persen dari jumlah uang yang ditukarkan. Nantinya, seluruh uang tersebut akan disetorkan ke pemilik modal. Dari situ, Ilah akan mendapatkan upah paling banyak tiga persen dari total uang lembaran yang berhasil ditukar.

“Jadi kalau ada orang tukar Rp 100.000, bayarnya Rp 110.000, jadi kena 10 persen. Saya hanya dapat keuntungan Rp 3.000, sisanya disetorkan ke pemilik modal,” katanya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.