Jaga Tradisi, Paguyuban Raden Sawunggaling Gelar Budaya dan Doa

Yovie Wicaksono - 22 October 2021
Anak-anak saat berebut uang koin dalam tradisi udik-udik di lingkungan Pesarean Raden Sawunggaling, Surabaya, Kamis (21/10/2021). Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Paguyuban Raden Sawunggaling mengadakan Doa dan Angkat Budaya ke X dengan berbagai rangkaian acara yang dilaksanakan selama tiga hari (21 – 23 Oktober 2021) di Pesarean Raden Sawunggaling, Jalan Lidah Wetan III, Surabaya.

Ketua Pelaksana sekaligus pengurus Paguyuban Raden Sawunggaling, Tulus Warsito mengatakan, acara ini rutin digelar tiap tahun dan khusus dua tahun di masa pandemi Covid-19, acara digelar dengan cara yang sederhana.

Tulus mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk mendoakan Bangsa Indonesia agar wabah Covid-19 cepat berakhir. Kemudian mengingatkan masyarakat tentang sejarah babat alas Kota Surabaya, sekaligus memperkuat tali silaturahmi.

Acara dibuka dengan lomba Suluk Sawunggaling yang diikuti oleh 15 peserta dari masyarakat sekitar.

“Suluk Sawunggaling sendiri merupakan doa dari Sawunggaling, betapa beliau hormat kepada orang tuanya sebelum turut serta dalam lomba atau sayembara untuk menggantikan tahta Adipati Jayengrono,” ujar Tulus, Kamis (21/10/2021).

Selain lomba Suluk Sawunggaling, ada pula tradisi Udik-udik yakni tradisi melempar atau menebar uang koin yang dimana secara filosofi merupakan bentuk wujud syukur.

“Jadi kami membuang uang koin yang berasal dari gotong royong warga dengan nominal sekira 1,5 juta yang diletakkan dalam bokor, diberi beras berwarna kuning yang menyimbolkan kemakmuran, beras berwarna merah simbol keberanian dan beras berwarna putih simbol kesucian. Nah itu di udik-udik kan atau didoakan oleh juru kunci biar berkah,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat yang memberikan uang koinnya untuk di udik-udik kan, dipercayai akan dihindarkan dari musibah dan ditambah rezekinya. Sementara masyarakat, umumnya anak-anak yang berebut mendapatkan uang koin saat udik-udikan sifatnya hanya untuk kegembiraan saja.

“Ini merupakan tradisional warisan nenek moyang, dan kami ingin nguri-nguri ini,” tandasnya.

Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan budaya, mengambil tema spirit Sawunggaling sebagai jembatan peradaban berbangsa dengan tujuan untuk memperkenalkan sejarah Sawunggaling pada para pemuda di Kota Surabaya.

Kemudian pada 22 Oktober, digelar acara religi dengan kirim doa kepada para pahlawan dan keluarga Sawunggaling sekaligus tokoh dan masyarakat diwilayah setempat.

“Acara puncak sekaligus penutupnya nanti akan ada pengajian umum oleh K.H Achmad Muwafiq pada 23 Oktober,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.