Honor Minim, Diana Ikhlas Dampingi ODGJ

Yovie Wicaksono - 16 August 2020
Dinas Sosial Kota Kediri Berdayakan Penyintas ODGJ. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di kota Kediri mencapai 572 orang. Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Kediri, Marni mengatakan, jumlah tersebut tersebar di tiga wilayah kecamatan yakni Mojoroto, Pesantren dan Kota.

“Sekitar  572 orang ODGJ ini mencakup tiga wilayah kecamatan, sebenarnya ODGJ nya itu ada yang baru, ada pula yang di tahun 2018. Tiap tahun cenderung naik. Tapi dalam proses penyembuhan  dalam masa rehabnya mereka masih bisa diberdayagunakan. Memang kalau dikatakan sembuh tidak bisa, paling tidak mereka sudah bisa kembali ke masyarakat,” ujarnya, Minggu (16/8/2020).

Guna memantau perkembangan kondisi ODGJ di tiga kecamatan itu, Dinas Sosial Kota Kediri menerjunkan tiga petugas sosial relawan yang semuanya adalah perempuan.

Dalam setiap bulannya, para relawan ini menerima honor Rp450 ribu yang diterima setiap 2 bulan sekali dengan akumulasi Rp900 ribu.

Salah satu relawan, Diana Sulistianing (43) asal Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, mengatakan dirinya sudah menjadi pendamping sejak akhir 2018 lalu hingga sekarang.

Menurutnya, ODGJ ini mempunyai hak untuk diperlakukan sama seperti orang lainya.

Diana sebelumnya pernah tinggal di salah satu pondok yang khusus menampung para ODGJ selama empat tahun.

“Sukanya kita bisa belajar hidup dari mereka, sebagai ODGJ. Jadi pengalaman hidup saya di pondok merawat orang stress. Dimana mereka mendapat perlakuan perawatan, akhirnya saya merasa kasihan dan terpanggil untuk memberikan pendampingan kepada mereka,” ungkapnya.

Ketika bergabung menjadi relawan, kegiatan sosial yang dilakukan masih bersinggungan dengan ODGJ.

Ibu satu anak lulusan sarjana pertanian tersebut mengaku selama 2 tahun menjadi relawan, ia melihat tidak sedikit keluarga dari ODGJ yang tidak siap menerima kenyataan tersebut. Karena itu pihaknya terus memberikan dorongan moril dan pendampingan kepada mereka.

“Kendalanya, rata-rata keluarga mereka itu keberatan menerima secara ikhlas keadaanya seperti itu. Namun si ODGJ ini tetap kita dukung, saya katakan jangan berkecil hati kamu tidak sendiri,” ujarnya.

Keterbatasan jumlah relawan pendamping yang hanya 3 orang, dan harua mengcover masing-masing kecamatan, Diana dan dua rekannya hanya melakukan roses monitoring dan evaluasi setiap dua minggu sekali.

Khusus wilayah Kecamatan Kota Kediri, dirinya harus pandai membagi waktu untuk melayani ODGJ di 17 Kelurahan.

“Paling tidak saya dua minggu sekali memantau. Istilahnya monev (monitoring dan evaluasi),” jelas Diana.

Tugas dan peran pendampingan ODGJ diantaranya memberikan pelayanan pengambilan obat, mengedukasi tata cara minum obat, mengawasi pemenuhan kebutuhan gizi makan, serta aktivitas kegiatan setiap hari.

“Kalau ada ODGJ yang suka keluyuran setiap hari, kita beri tahu agar tidak bepergian jauh,” katanya.

Saat melakukan pendampingan, ia merasa bersyukur bisa mengontrol emosi para ODGJ, sehingga tidak sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.

Diana memiliki cara jitu untuk bisa meredam emosi para ODGJ yang didampingi, dengan cara berbicara dari hati ke hati.

Dalam menjalankan tugas keseharian, para pendamping ODGJ ini, terkadang mendapat bantuan dari tim reaksi cepat Dinsos Kota Kediri.

Ketika relawan pendamping harus mengcover penderita ODGJ, sementara bersamaan ada ODGJ yang butuh bantuan untuk mengambil obat di Rumah Sakit, tim reaksi cepat yang bertugas memberikan pelayanan.

Diana sadar jika honor yang diterima tidak bisa diandalkan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk itu, ia memanfaatkan kemampuan menjahit yang dimiliki.

“Kalau ada orang menjahit, mereka datang ke rumah. Kebetulan punya basic sekolah desain, ya suka aja,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.