Hapus Stigma, Difabel Malang Lakukan Pendakian Gunung Butak

Yovie Wicaksono - 9 October 2020

SR, Malang – Timsus Pendaki Lingkar Sosial Indonesia (Linksos) sukses melakukan pendakian Gunung Butak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang memiliki ketinggian 2.868 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pendakian ini dilakukan 12 orang yang terdiri dari anggota difabel dengan ragam disabilitas tuli, disabilitas netra, disabilitas fisik, serta para pendamping dari Posyandu Disabilitas dan pemandu selama dua hari, 5-6 Oktober 2020.

Ketua Linksos, Kertaning Tyas mengatakan, adapun tujuan pendakian gunung ini dilakukan selain olahraga, juga untuk menguatkan imunitas di masa pandemi, serta kampanye penghapusan stigma.

“Terdapat tiga stigma yang kini tengah membalut kehidupan difabel, yaitu stigma lingkungan, self stigma dan stigma multikultural,” ujar pria yang akrab disapa Ken ini.

Ken mengatakan, stigma lingkungan yang terjadi selama ini adalah difabel dianggap tidak mampu dan sebagai beban lingkungan. Kemudian self stigma adalah difabel yang memposisikan diri sebagai orang lemah yang layak dikasihani

Sementara itu, stigma multikultural adalah pandangan negatif masyarakat yang disebabkan oleh adanya perundangan dan penerapan kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat difabel sehingga stigma menjadi budaya yang mengakar.

“Contoh stigma multikultural adalah adanya diskriminasi layanan publik di segala bidang dan minimnya aksesibilitas sarana dan prasarana bagi penyandang disabilitas,” ujarnya.

Ken menambahkan, meski sudah ada perundangan yang mengatur pemenuhan, perlindungan, dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas namun sebab implementasi kebijakan yang tidak berpihak pelanggaran terhadap hak difabel dianggap sebagai kewajaran dengan berbagai alasan.

“Dengan adanya keberhasilan ini, Lingkar Sosial berharap dapat mengubah paradigma negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas,” ujarnya.

Jalur pendakian Gunung Butak sendiri dikenal terjal dan ekstrim, bahkan dikabarkan sarat mistis. Para pendaki selain harus melewati hutan lumut yang dingin, hutan pinus Anjasmara, dan sabana juga meniti jalan setapak di tepian lembah curam sepanjang kurang lebih 500 meter, serta mendaki tebing batu berketinggian sekira 300 meter dengan kemiringan 75 derajat.

“Bagi pendaki pada umumnya hal ini terbilang sulit dan memerlukan kewaspadaan lebih, indikatornya ketika pendaki tidak berpegangan pada bebatuan, rumput, akar atau alat bantu seperti tali temali dan tongkat maka akan tergelincir. Namun hal ini mampu dilewati oleh para difabel anggota timsus pendaki,” katanya.

Kesuksesan pendakian ini, imbuh Ken, tak lepas dari latihan keras fisik dan mental. Sebelum mendaki Gunung Butak, timsus pendaki Linksos telah melewati beberapa latihan pendakian, yaitu penjelajahan Bukit Srigading, Coban Misteri Supit Urang Lawang, Gunung Wedon dan Gunung Banyak.

Agung, seorang pemandu perjalanan yang telah berpengalaman belasan kali mendaki gunung mengaku, ini merupakan pengalaman pertama mendampingi kelompok difabel. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.