Lalu Lintas Jalan Nasional di Pulau Jawa Turun Rata-Rata 68 Persen Selama PSBB

Yovie Wicaksono - 29 April 2020
Ilustrasi situasi di kawasan Jl. Jenderal Sudirman pada hari pertama PSBB di Jakarta, Selasa (7/4/2020). Foto: (ANTARA)

SR, Jakarta – Pemerintah terus melakukan evaluasi pada jalan nasional yang terdampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Berdasarkan pantauan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, penurunan lalu lintas jalan nasional selama PSBB di Pulau Jawa bervariasi mulai dari 33 persen hingga 89 persen dengan rata-rata 68 persen.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, layanan jalan tol dan non-tol tetap sebagai jalur logistik untuk barang-barang kebutuhan pokok, alat kesehatan, serta layanan kesehatan atau kendaraan medis. Selain itu, layanan tol juga diperbolehkan untuk pergerakan orang pada skala lokal atau kawasan Jabodetabek.

“Kita bersama melaksanakan pesan Presiden Joko Widodo tentang pentingnya disiplin kerja yang kuat bagi setiap warga dalam melaksanakan kebijakan bekerja dari rumah sebagai upaya untuk memutus rantai distribusi Covid-19, serta untuk tidak Mudik Lebaran pada tahun 2020 ini. Dengan demikian lalu lintas di jalan tol dan jalan nasional dapat lebih meningkat lagi,” kata Basuki Hadimuljono, Rabu (29/4/2020).

Di Pulau Jawa, terletak di jalan nasional yang berada di dalam wilayah PSBB yaitu di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, dan Jawa Timur. 

Di Provinsi Banten, ada empat ruas jalan nasional yang ada di wilayah PSBB yaitu ruas Merak-Bts. Kota Cilegon dengan penurunan traffic sebesar 47 persen, ruas Bts. Kota Cilegon-Bts. Kota Serang sebesar 55 persen, ruas Bts. Kota Serang-Bts. Kota Tangerang sebesar 58 persen, dan Jalan Daan Mogot (Tangerang – Bts.DKI) sebesar 51 persen.

Selanjutnya di Provinsi Jawa Barat juga terjadi penurunan lalu lintas harian rata-rata (LHR) di jalan nasional ruas empat ruas Jl. Soekarno Hatta (Bandung) sebesar 46 persen, ruas Bts. Kota Padalarang-Bts Kota Bandung sebesar 66 persen, ruas Lintas Tengah (Bts.Kota Cileunyi-Nagreg) sebesar 49 persen, dan ruas Lintas Utara (Bts.Kab Subang / Karawang-Bts.Kota Pamanukan) sebesar 33 persen.

Sementara di Provinsi Jawa Tengah termasuk kebebasan ruas jalan nasional yang masuk wilayah PSBB dan pindah lalu lintas yang ditentukan oleh Losari Bts.Prov. Jabar-Pejagan dengan penurunan sebesar 83 persen, Jalan Siliwangi (Semarang) sebesar 84 persen, Bts. Kota Rembang-Bulu (Bts. Prov Jatim) sebesar 69 persen, Prupuk-Bts. Kab. Tegal / Banyumas sebesar 79 persen, Karang Pucung-Wangon sebesar 80 persen, Simpang 3 Jeruk Legi-Bts. Kota Cilacap sebesar 88 persen, Bts. Kab. Temanggung / Semarang-Bawen sebesar 67 persen, dan Kartosuro-Bts. Kota Surakarta sebesar 71 persen. 

Pada lintas utama Jawa Tengah, penurunan volume kendaraan sangat signifikan dibandingkan dengan kendaraan barang. Penurunan kendaraan sebanyak 75 persen hingga 89 persen.

Di wilayah DI Yogyakarta penurunan lalu lintas juga terjadi di lima ruas jalan nasional yang masuk wilayah PSBB ruas Karang Nongko (BTS. Prov Jateng) – Toyan sebesar 80 persen, Jalan Arteri Utara Barat (Yogyakarta) sebesar 60 persen, Jalan Ateri Utara (Yogyakarta) ) sebesar 60 persen, Bts. Kota Sleman-Bts Kota Yogyakarta sebesar 69 persen, dan Janti (Yogyakarta) -Prambanan (Bts. Prov Jateng) sebesar 76 persen.

Sementara di Provinsi Jawa Timur, terdapat lima ruas jalan nasional yang masuk wilayah PSBB dan terjadi penurunan lalu lintas yaitu Jalan Pattimura (Bangil) sebesar 78 persen, ruas Widang / Bedahan – Bts. Kota Lamongan sebesar 77 persen, Bts. Kota Nganjuk – Kertosono sebesar 89 persen, Bts. Kota Madiun – Bts.Kota Caruban sebesar 84 persen, dan Bts. Kota Jombang – Bts. Kabupaten Mojokerto sebesar 80 persen. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.