H-1 Ramadan, TPU Keputih Surabaya Masih Dipadati Peziarah

Yovie Wicaksono - 2 April 2022
Suasana di kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Keputih Surabaya, Sabtu (2/4/2022). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Hingga H-1 puasa Ramadan, kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya masih terlihat dipadati peziarah. 

Seperti diketahui, berziarah atau nyekar ke makam keluarga maupun leluhur menjadi salah satu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia menjelang Ramadan.

Berdasarkan pantauan Super Radio, para peziarah ini berdatangan baik ke pemakaman umum maupun pemakaman khusus Covid-19.

“Alhamdulillah hari ini bisa berziarah ke makam ibu bersama suami sebelum puasa besok. Ibu saya kan berpulang dua tahun lalu saat awal-awal pandemi, dan dimakamkan di kompleks Covid-19 ini,” ujar salah satu peziarah, Sari, warga Pandegiling Surabaya, Sabtu (2/4/2022).

Ia mengatakan, momen ziarah tahun ini sudah tak seketat awal adanya pandemi. “Saat 2020 itu, kita mau ziarah pada hari pertama Lebaran tidak bisa, masih sangat ketat. Tapi alhamdulillah sejak tahun lalu dan tahun ini sudah longgar,” sambungnya.

Sari menambahkan, ziarah atau nyekar tiap jelang Ramadan juga menjadi tradisi dikeluarganya untuk memanjatkan doa kepada keluarga yang telah pergi lebih dulu.

Sementara itu, salah satu penjual bunga tabur yang ada di kompleks TPU Keputih, Siti mengaku, peningkatan peziarah sudah terjadi sejak sepekan lalu, tepatnya 25 Maret 2022. Hal ini menjadi berkah tersendiri untuknya.

“Dibanding tahun lalu masih ramai tahun ini. Ramai peziarah sejak seminggu lalu, tapi paling ramai ya hari Sabtu, Minggu, Kamis, sama hari ini,” ujar perempuan yang berdomisili di Medokan Semampir ini.

Adapun satu kantong plastik bunga tabur, ia menjual seharga Rp 10 ribu. Sementara untuk bunga mawar Rp 70 ribu per kantong dan bunga sedap malam yang dibanderol Rp 30 ribu per ikat.

Ia mengaku, selama sepekan ini rata-rata dalam satu hari mendapatkan omzet Rp 2-3 juta. Jika dibanding tahun lalu yang hanya mendapat Rp 1,5 juta per hari.

“Alhamdulillah, nyekar bisa menjadi berkah tersendiri bagi kami selaku pedagang bunga,” katanya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.