Guru Besar UNAIR Sebut Perburuan Takjil Lintas Agama Jadi Ajang Memperat Persaudaraan
SR, Surabaya – Siapa yang tak kenal bulan Ramadan, bulan penuh berkah yang selalu menghadirkan serba-serbi tersendiri. Serba-serbi tersebut seperti salat tarawih, kewajiban berpuasa, hingga berburu takjil ketika hampir tiba waktu berbuka. Uniknya para pemburu takjil tidak hanya datang dari masyarakat muslim saja.
Masyarakat yang tidak memeluk agama Islam juga ikut serta. Bahkan tren ini tengah menjadi perbincangan di sosial media. Ada warganet yang mengeluhkan begitu cepatnya takjil di pasaran ludes terjual. Tapi ada juga warganet yang dengan apiknya menyusun strategi supaya berhasil mendapat takjil incaran.
Fenomena perburuan takjil lintas agama ini membuat Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) angkat bicara. Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi mengatakan, momen ini bisa mempererat tali persaudaraan antar umat beragama.
“Kalau masyarakat muslim beli takjil kebanyakan untuk konsumsi pribadi. Kalau masyarakat non muslim beli takjil selain untuk konsumsi pribadi, ada juga yang dibagikan kepada masyarakat yang menjalankan puasa,” katanya.
Tak hanya itu saja, Guru Besar Ilmu Sosiologi tersebut mengungkapkan, fenomena ini menjadi bentuk kerukunan antar umat beragama. Hal ini membuktikan bahwa meski Indonesia memiliki masyarakat yang beragam, tapi tali persatuan masih terikat dengan erat.
“Saya melihat fenomena ini sebagai bentuk tindakan yang rukun antar umat beragama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, fenomena ini merupakan tren yang baik dan mengandung pesan moral untuk saling menghormati meski memeluk agama yang berbeda. “Saya rasa ini tren yang baik, supaya memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa meski berbeda agama tetap harus saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.
Dekan FISIP UNAIR ini berharap, tren yang memberikan dampak positif seperti ini bisa terus berlanjut. Apalagi kondisi masyarakat Indonesia yang beragam sehingga sikap yang toleran perlu terbangun dengan baik. “Di masyarakat multipluralis seperti Indonesia harus dibangun sikap yang toleran,” pungkasnya. (*/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





