GO CLEVER, Inovasi Mahasiswa UNAIR Mudahkan Deteksi Kualitas Air Sungai

Fena Olyvira - 28 June 2019
Bidayatul Mas’ulah ketika berada di (IMIT SIC) 2019 di Princess of Naradhiwas University, Thailand bersama aplikasi Go Clevernya. (Foto : Istimewa)

SR, Surabaya – Tiga mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), yakni Bidayatul Mas’ulah atau Bida, Muhammad Hafiruddin dan Prabowo Subiyanto, membuat aplikasi berbasis desktop yang digunakan untuk mendeteksi air sungai apakah layak dikonsumsi atau tidak, yang diberi nama Go Clever.

Bida menjelaskan, ide untuk membuat aplikasi Go Clever tersebut berawal dari keresahan mereka terhadap air sungai yang semakin tercemar. Disamping itu, masih banyak masyarakat yang mengonsumsi air dari sungai.

“Beberapa daerah sering timbul penyakit akibat mengonsumsi air sungai yang tercemar tersebut. Untuk itu, perlu dibuat aplikasi deteksi kualitas air sungai untuk menentukan apakah air tersebut layak dikonsumsi atau tidak,” jelas Bida.

Dalam proses pembuatan aplikasi tersebut, Bida dan tim harus menggali informasi terkait air pada pakar di bidang sumber daya alam. Setelah itu, meminta parameter atau indikator-indikator air layak konsumsi untuk membantu dalam memprogram aplikasi. Parameter tersebut diantaranya adalah nilai pH air, BOD, COD, kandungan kobalt, besi, merkuri, boron dan lain sebagainya.

Sejauh ini, aplikasi masih diperuntukkan untuk laboran guna menguji kelayakan air. Caranya adalah dengan menginputkan nilai hasil penelitian air pada parameter yang tersedia di aplikasi. Kemudian akan keluar hasil berupa kualitas air tersebut akankah layak dikonsumsi atau tidak berdasarkan data yang diinputkan pada kolom parameter.

Tidak hanya menunjukkan kualitas air layak atau tidak. Namun aplikasi juga menunjukkan indikator apakah air tersebut menjadi tidak layak dikonsumsi. Misalnya, nilai merkuri yang terkandung dalam air tersebut terlalu tinggi, sehingga air menjadi tidak layak konsumsi.

Inovasi tersebut mengantarkan Bida dan tim mendapatkan medali perak pada acara Internasional Malaysia-Indonesia-Thailand on Symposium Innovative and Creativity (IMIT SIC) 2019 di Princess of Naradhiwas University, Thailand, pada 16 hingga 18 Juni 2019 kemarin.

Bida berharap, aplikasi itu bisa mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar manfaat dari aplikasi dapat dirasakan oleh semua kalangan. Kedepannya, Bida dan tim akan terus memperbaiki aplikasi agar hasil yang diperoleh semakin akurat.

“Kami juga masih terus berusaha agar aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk laboran tapi bisa digunakan oleh masyarakat umum lainnya,” pungkas Bida. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.