Eks Napiter Umar Patek Bisnis Kopi Ramu, Muhammadiyah: Orang Berhak Menjadi Lebih Baik

Rudy Hartono - 5 June 2025
Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek saat kenalkan produk kopinya, di Cafe Hedon Estate Surabaya di Jalan Ngagel Timur.  (net)

SR, Surabaya – Kabar eks nara pidana teroris (napiter) Umar Patek  yang melaunching produk “kopi ramu” di Surabaya, menuai banyak perhatian. Tak terkecuali dari kalangan Muhammadiyah.

Seperti diketahui, Hisyam bin Alizein atau yg kini dipanggil Umar Patek merupakan mantan kombatan bom bali yang menewaskan ratusan orang. Perannya pun tak main-main. Ketika bom bali tahun 2002, Umar Patek adalah asisten koordinator lapangannya.

Namun kini imej perlahan ingin diubah. Dari seseorang yang meracik bom menjadi peracik kopi handal. Alhasil sambutan positif berdatangan. Salah satunya dari PW Muhammadiyah Jawa Timur.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) Tamhid Mashudi (kiri) bersama Sekretaris Bamusi Jatim Kuswari, Kamis (5/6/2025).(foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) Tamhid Mashudi mengaku sangat senang pada progres Umar Patek. Menurutnya tiap orang berhak mendapat kesempatan berubah ke arah yang lebih baik. Dirangkul, disadarkan kembali mencintai NKRI, bukan dikucilkan.

“Ini sangat bagus. Ternyata ada salah satu eks napiter punya kreasi dengan kesadaran yang sangat tinggi kembali ke NKRI dan menyadari kesalahannya, mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat,” ucapnya, Kamis (5/6/2025).

Dari sisi Muhammadiyah pun, lanjutnya, sudah tak asing pada teman-teman eks napiter. Bahkan di Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jatim, ada layanan pembinaan eks napiter yang langsung dibawahi Lembaga Dakwah Khusus (LDK).

Tamhid menjelaskan, layanan tersebut dibimbing oleh Ali Imron. Seorang eks napiter bom Bali yang kini jadi garda depan deradikalisasi. Total, 20 orang  dibina untuk kembali ke jalan yang benar.

“Kebetulan Ali Imron kuliah di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang dan beliau sangat concern sekali untuk mengembalikan kawan kawan beliau dan calon-calon napiter. Dikumpulkan, diajak untuk memahami bahwa kita ini Indonesia hidup berdampingan dengan berbagai macam suku dan ras dan agama yang lain,” jelasnya.

Di sana, para eks napiter diberi banyak pembekalan, penanaman nilai-nilai cinta tanah air, ruang aman yang menjamin mereka diterima dengan baik. Tanpa membeda-bedakan ataupun mengucilkan. “Itu sangat penting, kalau mereka dikucilkan, mereka akan kembali ke kelompoknya,” tuturnya.

“Dan itu memang kita dorong supaya masing-masing napiter itu tidak kembali ke asalnya. Maka harus ada sesuatu yang nisa dipakai untuk menyadarkan mereka, salah satunya adalah soal kebutuhan ketahanan pangan mereka,” pungkasnya. (hk/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.