Disinformasi dan Hoax PKI, Covid-19, hingga Makan Daging Kambing

Yovie Wicaksono - 27 June 2020
Ilustrasi

SR, Surabaya – Banyak beredar informasi dan berita palsu (hoaks) oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab di dunia maya saat pandemi virus corona (Covid-19).

Jika tidak berhati-hati dan teliti, seringkali masyarakat mudah termakan hoaks tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu. Adapun beberapa hoaks maupun disinformasi yang berhasil kami rangkum diantaranya adalah ;

1. Pembakar Bendera PDIP adalah Anggotanya Sendiri yang Menyamar Ikut Tolak RUU HIP

Penjelasan :

Beredar narasi di media sosial yang menyebut pembakar bendera PDI Perjuangan (PDIP) merupakan anggota atau simpatisan PDIP, yang menyamar ikut aksi tolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Dikutip dari medcom.id, klaim bahwa pembakar bendera PDI Perjuangan (PDIP) merupakan anggota atau simpatisan PDIP yang menyamar ikut aksi tolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), adalah salah.

Faktanya, belum ada informasi bahwa aparat kepolisian telah menangkap pelaku pembakaran bendera tersebut. Sementara itu, foto dalam tangkapan layar yang memperlihatkan aparat dengan pria berpeci tanpa baju, tidak ada kaitannya dengan aksi pembakaran bendera PDIP.

Foto itu memperlihatkan seorang anggota FPI yang sebenarnya sudah beredar pada awal Juni 2017. Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan).

KATEGORI: HOAKS

Link Counter :

https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/gNQGw8wk-pembakar-bendera-pdip-anggotanya-sendiri-yang-menyamar-ikut-tolak-ruu-hip

 

2. Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid adalah Bos dan Otak Baru PKI

Penjelasan :

Telah beredar informasi di media sosial yang memuat narasi yang menyebutkan bahwa Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid adalah bos PKI dan otak dari PKI baru.

Dilansir dari postingan akun Instagram Hoax Crisis Center (HCC) Jawa Barat, unggahan tersebut adalah salah atau keliru. Tidak ditemukan pemberitaan media daring yang mengatakan Dirjen Kebudayaan, Hilmar adalah bos PKI atau otak PKI baru. Diketahui, PKI sendiri dilarang dalam Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 bersamaan dengan larangan terhadap Komunisme, Leninisme dan Marxisme.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri menegaskan bahwa Pemerintah juga berkomitmen penuh untuk menutup pintu terhadap komunisme di Indonesia. Payung hukum terhadap hal itu juga disebut oleh beliau sudah sangat kuat dan tidak ada keraguan terhadapnya.

KATEGORI: HOAKS

Link Counter :

 

View this post on Instagram

Akun Facebook Pak Jembud atau @pak.jembud membuat tulisan yang menyudutkan Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid. Akun Facebook tersebut mengatakan, Hilmar ialah bos PKI dan otak dari PKI baru. . Berikut narasi lengkapnya: . “SAYA BERITAHU ANDA….INI boss PKI YANG SEBENARNYA SEKARANG NAMANYA HILMAR FARID DOSEN UI …OTAK PKI BARU ! ANDA NGGAK TAHU KAN ?.” . Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan tersebut adalah salah atau keliru. . Tidak ditemukan pemberitaan media daring yang mengatakan Dirjen Kebudayaan, Hilmar adalah bos PKI atau otak PKI baru. . Diketahui, PKI sendiri dilarang dalam Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 bersamaan dengan larangan terhadap Komunisme, Leninisme dan Marxisme. . Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri menegaskan bahwa pemerintah juga berkomitmen penuh untuk menutup pintu terhadap komunisme di Indonesia. Payung hukum terhadap hal itu juga disebut oleh Jokowi sudah sangat kuat dan tidak ada keraguan terhadapnya. . "Saya kira sudah jelas sekali Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966, juga payung hukum yang tertinggi sudah ada. Undang-Undang Nomor 27 1999 juga ada. Sudah jelas bahwa PKI dan seluruh ajarannya dilarang di negara kita. Saya kira pemerintah tidak ragu-ragu mengenai hal itu," katanya. . Dengan begitu, unggahan yang mengklaim Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar ialah bos PKI atau otak PKI baru, menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan, artinya penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu. . Referensi: netralnews.com vivanews.com youtube.com #hoax #hoaks #hoaxcrisiscenter #HCCJawaBarat #HCCJabar #turnbackhoax #jawabarat #jabar #cekfakta #literasi

A post shared by Hoax Crisis Center Jawa Barat (@hccjawabarat) on

 

https://cirebon.pikiran-rakyat.com/cek-fakta/pr-04576919/hoaks-atau-fakta-benarkah-dirjen-kebudayaan-kemendikbud-hilmar-farid-adalah-bos-dan-otak-baru-pki

 

3. Ratusan Pedagang Pasar di Surabaya Positif Covid

Penjelasan :

Beredar pesan berantai melalui media sosial Whatsapp beberapa hari yang lalu. Dalam pesan berantai tersebut tertulis 22 pasar tradisional di Kota Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik dihuni ratusan pedagang yang disebut positif terinfeksi Covid-19.

Kepala Bagian Perekonomian dan Usaha Daerah Surabaya, Hebi Juniantoro mengatakan pesan itu adalah tidak benar atau hoaks. Humas PD Pasar Surya, Zaini, mengamini hal tersebut. Ia mengungkapkan, jika kabar itu sudah beredar semenjak beberapa hari yang lalu dengan konsep pesan yang sama, namun kata-katanya saja yang berbeda.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter :

https://m.ngopibareng.id/timeline/pesan-wa-perihal-warga-terpapar-covid-19-di-pasar-pd-pasar-hoax-1728142

 

4. Mencium Cuka Bisa Deteksi Covid-19 Tanpa Perlu Rapid Test

Penjelasan :

Beredar di sosial media Facebook sebuah unggahan mengenai tak perlu ikut rapid test, mencium cuka bisa mendeteksi infeksi virus Corona Covid-19. Unggahan tersebut menautkan sebuah artikel dengan judul “Tak Perlu Ikutan Rapid Tes, Mencium Cuka Bisa Deteksi Apakah Kita Terkena Virus Atau Tidak, Begini Caranya”.

Dikutip dari cekfakta.tempo.co, klaim tak perlu ikut rapid test, mencium cuka bisa mendeteksi infeksi virus Corona Covid-19 adalah salah. Isi artikel tersebut mengutip unggahan akun Facebook US Army Garrison Daegu, memang benar bahwa Tentara Angkatan Darat AS di Garnisun Daegu, Korea Selatan, menerapkan tes mencium cuka.

Hal ini diumumkan pada 3 April 2020. Namun tidak mampunya seseorang mencium cuka bukan berarti orang tersebut terinfeksi Covid-19. Ada sejumlah faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan indra penciuman. Untuk memastikan positif atau tidaknya seseorang menderita Covid-19, harus dilakukan tes PCR.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter:

https://cekfakta.tempo.co/fakta/847/fakta-atau-hoaks-benarkah-mencium-cuka-bisa-deteksi-covid-19-tanpa-perlu-rapid-test

https://turnbackhoax.id/2020/06/25/salah-tak-perlu-ikut-rapid-test-mencium-bau-cuka-bisa-deteksi-seseorang-terkena-covid-19-atau-tidak/

 

5. Bahaya Makan Kambing selama Pandemi

Penjelasan :

Telah beredar sebuah informasi di media sosial yang mengklaim bahwa Provinsi Punjab di Pakistan mengeluarkan peringatan agar tidak makan daging kambing selama pandemi, karena di Pakistan sudah mulai muncul Virus Corona pada kambing.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, faktanya klaim itu salah. Dikutip dari Factcheck.afp.com, Otoritas Makanan Punjab mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya menyangkal telah mengeluarkan peringatan tentang bahaya makan daging kambing. Selain itu, tidak ada bukti bahwa Virus Corona menyebar di antara ternak di negara itu.

KATEGORI: HOAKS

Link Counter :

https://factcheck.afp.com/china-coronavirus-pakistani-officials-deny-they-issued-warning-over-dangers-eating-goat-meat

 

6. Daun Kelor Dapat Menetralisir Racun

Penjelasan :

Beredar di media sosial Facebook video yang menampilkan seorang wanita sedang melakukan percobaan dengan menggunakan bihun yang kemudian berubah warna menjadi kehitaman setelah diberi obat merah, perubahan warna tersebut diklaim menandakan ada kontaminasi racun.

Lalu wanita tersebut menambahkan air rebusan daun kelor pada bihun tersebut dan dalam beberapa saat larutan tersebut kembali jernih. Atas kejadian ini, wanita itu mengklaim bahwa air rebusan daun kelor dapat menetralisir racun yang ada dalam tubuh.

Faktanya Ketua Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Wawaimuli Arozal mengungkapkan bahwa informasi yang ada dalam video itu salah. Klaim bahwa bihun tersebut mengandung racun karena dapat berubah warna saat diberi obat merah dinilai keliru.

Menurutnya, perubahan warna itu terjadi karena adanya reaksi kimia yang wajar, bukan karena bihun yang mengandung racun atau toksin. Terkait manfaat, ia menjelaskan bahwa daun kelor memiliki efek antioksidan, menurunkan lemak darah, anti peradangan dan lainnya.

Namun, khasiat-khasiat tersebut masih sebatas penelitian yang diuji coba pada hewan. Adapun penelitian yang sudah terbukti pada manusia yakni sebagai suplemen besi, artinya daun kelor berperan sebagai asupan besi pada orang yang anemia karena defisiensi besi.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter:

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2020/06/25/beredar-video-yang-menyebut-daun-kelor-bisa-netralisir-racun-ternyata-begini-faktanya

https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/24/183000665/ramai-soal-video-daun-kelor-yang-disebut-dapat-menetralisir-racun-ini?page=all

 

7. Penawaran Workshop Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran DAK

Penjelasan :

Beredar surat terkait penawaran Workshop Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Dana Alokasi Khusus (DAK). Dalam surat itu disebutkan bahwa jika ingin mengikuti kegiatan tersebut, peserta diwajibkan membayar sejumlah uang untuk biaya pendaftaran/ADM dan sertifikasi.

Faktanya Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Perencana Bappenas (Pusbindiklatren) melalui laman Instagram-nya @pusbindiklatren menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut adalah hoaks. Pusbindiklatren Bappenas tidak pernah meminta biaya apapun kepada peserta yang akan mengikuti Workshop Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Dana Alokasi Khusus(DAK).

Pihaknya menegaskan, Pusbindiklatren Bappenas juga tidak pernah meminta biaya apapun kepada peserta yang akan mengikuti kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Pusbindiklatren Bappenas.

KATEGORI: HOAKS

Link Counter:

https://www.instagram.com/p/CB2QmeRAsnX/

 

8. Jakarta Kembali Zona Merah dan Bogor Zona Hitam

Penjelasan :

Beredar unggahan di media sosial Facebook terkait peta sebaran Covid-19 wilayah DKI Jakarta dengan narasi “DKI kembali Zona Merah, Bogor Zonna Hitam”.

Faktanya peta yang ditampilkan pada unggahan tersebut merupakan peta persebaran virus corona yang ditampilkan situs pemantau milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada bulan April 2020 lalu, yang sama sekali tidak relevan dengan perkembangan corona di DKI Jakarta saat ini.

Kemudian klaim bahwa DKI Jakarta kembali zona merah tidaklah tepat sebab penggunaan kata ‘kembali’ di kalimat tersebut seolah-olah menyiratkan bahwa Jakarta sempat berubah warna zona dari merah ke warna lain, sebelum akhirnya kembali menjadi zona merah.

Padahal, Jakarta memang telah menjadi zona merah sejak April 2020, dan status wilayah tersebut tidak pernah berubah jadi zona berwarna lain hingga saat ini. Selain itu klaim Bogor zona hitam juga tidak tepat, hal tersebut dikarenakan ‘zona hitam’ bukanlah kategorisasi resmi dipakai oleh Gugus Tugas untuk menjelaskan kondisi kasus aktif di suatu wilayah. Adapun Gugus Tugas memulai rentang zona dari warna hijau, kuning, oranye, dan merah.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter :

https://kumparan.com/kumparansains/viral-di-whatsapp-jakarta-zona-merah-dan-bogor-zona-hitam-ini-faktanya-1tfaeNJLdrh/full

https://www.antaranews.com/berita/1572312/dki-jakarta-kembali-masuk-zona-merah-covid-19-ini-faktanya

 

9. Memakai Sepatu dalam Rumah Memicu Kenaikan Covid-19

Penjelasan :

Telah beredar informasi di media sosial yang mengatakan bahwa Italia mengalami lonjakan infeksi Covid-19 akibat warganya yang mengenakan sepatu dalam rumah mereka.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, faktanya klaim itu salah. Dikutip dari factcheck.afp.com, ahli kesehatan mengatakan bahwa mengenakan sepatu di dalam ruangan tidak dapat secara langsung menyebabkan infeksi Covid-19, dokter merekomendasikan untuk mengadopsi rutinitas kebersihan pribadi yang menyeluruh untuk menurunkan risiko infeksi Covid-19.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter :

https://factcheck.afp.com/health-experts-refute-misleading-claim-wearing-shoes-indoors-main-reason-hike-Covid-19-infections

 

10. MPR dan KPU Sepakat Presiden Jokowi Menjabat Sampai Tahun 2027

Penjelasan :

Beredar sebuah tautan artikel berita berjudul “MPR dan KPU Sepakat Jokowi Lanjut Sampai 2027? Bagaimana Rakyat, Akan Diam Saja?” Artikel berita ini beredar di media sosial Facebook. Berdasarkan unggahan akun Facebook yang telah beredar luas itu, tautan artikel tersebut dimuat di situs berita Portal-Islam.id.

Berdasarkan penelusuran, pernyataan bahwa MPR dan KPU sepakat masa jabatan Presiden Joko Widodo berlanjut hingga tahun 2027 adalah salah. Faktanya, KPU dan DPR saat ini tengah membahas Pilkada serentak yang diwacanakan berbarengan dengan Pilpres dan Pileg di 2024 diundur pelaksanaanya hingga tahun 2027.

KATEGORI: DISINFORMASI

Link Counter :

https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4bamL63b-cek-fakta-mpr-dan-kpu-sepakat-jokowi-lanjut-sampai-2027-ini-faktanya

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.