Caritas Indonesia Bantu Ratusan Korban Gempa NTT di Tenda Darurat

Rudy Hartono - 2 September 2026
Ketua Karitas Keuskupan Surabaya, Romo Markus Marcelinus Hardo CM di sela kesibukannya di Posko Logistik Nasional di kawasan Perak, Surabaya. (foto: dipta/superradio.id)

SR, Surabaya – Lembaga Caritas Indonesia (LCI) mengungkap  warga di wilayah Keuskupan Ende, Ruteng, Maumere, dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur masih alami ketakutan dan memilih tidur di luar rumah dengan mendirikan tenda darurat. Mereka masih trauma akibat guncangan gempa susulan.

Kondisi memprihatinkan itu disampaikan Ketua Karitas Keuskupan Surabaya, Romo Markus Marcelinus Hardo CM di sela kesibukannya di Posko Logistik Nasional di kawasan Perak, Surabaya.  Posko ini mendata dan mendistribusikan bantuan logistik kepada korban bencana gempa di NTT.

“Lembaga Caritas Indonesia prioritaskan pasokan logistik ke NTT berupa tandon air bersih, terpal, tenda, selimut, bahan makanan pokok, serta obat-obatan. Barang-barang itu sangat mendesak dipenuhi karena masih banyak warga yang memilih tinggal di tenda darurat karena khawatir dengan gempa susulan,” kata Romo Markus ditemui Super Radio, Senin (31/8/2026).

Dengan prioritas kebutuhan itu, maka Lembaga Caritas Indonesia menerapkan kedisiplinan ketat dalam pengelolaannya. Di antaranya, posko menolak bantuan pakaian bekas layak pakai, tapi menerima dan segera mengirimkan bantuan yang memang sangat dibutuhkan di lapangan.

Sumbangan logistik makanan di Posko Kemanusiaan Caritas Indonesia di Surabaya siap dikirim ke NTT. (foto: dipta/superradio.id)

“Kami kemarin baru memberangkatkan dua truk bermuatan penuh melalui jalur laut dan darat. Truk ekspedisi besar menyeberang ke NTT dan langsung bergerak menuju posko-posko keuskupan setempat untuk memastikan bantuan sampai langsung ke tenda pengungsian,” kata Romo Markus.

Lebih jauh diterangkan, Lembaga Caritas Indonesia menghimpun dan menyalurkan bantuan melalui jejaring gereja dan menempatkan posko di Surabaya. “Surabaya dipilih jadi posko  karena posisinya sebagai titik transit paling efisien dengan akses pelabuhan terdekat menuju wilayah Indonesia Timur,” papar Romo.

Untuk mengelola posko bantuan gempa NTT itu, Lembaga Caritas Indonesia melibatkan puluhan relawan gereja dari Surabaya maupun relawan dari luar kota seperti seperti Ponorogo, Cepu, Blingi, Rembang, dan Tuban. Para relawan bekerja siang hingga malam diatur berdasarkan shift.

“Kami bekerja berdasarkan shift, tapi aktivitas malam hari lebih sibuk dibandingkan siang karena kami membantu posko di sela rutinitas harian. Saya menyempatkan bantu posko saat istirahat atau usai bekerja,” kata Agustinus Jason, relawan posko dari Surabaya.

Adapun aktivitas posko bantuan gempa NTT oleh Lembaga Caritas Indonesia ini ditargetkan bekerja hingga akhir September. “Kami di Posko bekerja sejak pertengahan bulan Agustus dan  diproyeksikan hingga akhir September. Harapannya seluruh bantuan tuntas didistribusikan kepada para korban bencana,” pungkas Romo. (dipta/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.