BMKG Jatim Intensif Monitoring Kemunculan El Nino

Rudy Hartono - 13 April 2026
Ilustrasi - Warga memeriksa kapal miliknya yang terdampar akibat menyusutnya debit air Waduk Gajah Mungkur karena kemarau panjang di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (19/10/2018). (foto: antara) 

SR, Malang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) melakukan monitoring intensif terhadap indikasi munculnya fenomena El Nino.

“BMKG merilis saat ini akan ada kemunculan El Nino di pertengahan tahun dengan intensitas lemah. Tetapi nanti akan di-update, apakah intensitas El Nino yang lemah ini akan meningkat menjadi moderat atau kuat,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur Anung Suprayitno di Malang, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026)

Ia menjelaskan, ketika intensitas El Nino meningkat menjadi moderat maupun kuat, akan mempengaruhi durasi musim kemarau yang bisa berlangsung lebih panjang.

“Bahkan awal musim hujan bisa saja mundur hingga ada daerah yang baru masuk musim hujan pada tahun 2027,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan yang diunggah di akun media sosial resmi milik BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung bertahap, mulai April hingga Juni 2026. Sedangkan, puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026.

Stasiun Klimatologi Jawa Timur juga telah merekomendasikan supaya setiap daerah melakukan optimalisasi terhadap mekanisme penampungan sumber daya air dan pengelolaan irigasi.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul menambahkan, El Nino diprediksi akan muncul sekitar Juni dan Juli 2026. Perkembangan intensitas fenomena tersebut dengan skala yang lebih tinggi juga memiliki potensi memicu terjadinya kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Tetapi dampak terhadap setiap daerah berbeda-beda,” ujarnya.

Linda menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur hingga pemerintah di tingkat kabupaten dan kota sebagai bentuk kesiapan menerapkan mitigasi dini terhadap dampak El Nino, salah satunya menyangkut ketersediaan air untuk sektor pertanian.

“Kami memberikan informasi mengenai perkembangan cuaca dan iklim, sehingga daerah bisa mengeksekusi melalui langkah-langkah di lapangan,” ucap dia. (*/ant/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.