Emil Sebut Jamu sebagai Usaha Profesional di Bidang Obat Tradisional

Yovie Wicaksono - 12 June 2020
Proses Pembuatan Jamu Suling Zanjabila untuk Cegah Corona. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa jamu sebagai usaha profesional di bidang obat tradisional. Bahkan, bisnis jamu merupakan peluang usaha yang bisa meraup keuntungan banyak, apalagi saat ini digalakkan hidup sehat. Maka dari itu, banyak orang yang mulai beralih dari minuman instan ke herbal.

“Kita sekarang menyebut jamu sebagai usaha profesional di bidang obat tradisional. Artinya, kita juga memikirkan pengembangan SDM-nya, hingga produksinya juga harus dipikirkan,” katanya, Kamis (11/6/2020). 

Menurut Emil, Indonesia dikenal dengan julukan live laboratory. Dari total sekitar 40.000 jenis tumbuhan obat, 3.000-nya disinyalir berada di Indonesia. Jumlah tersebut mewakili 90 persen dari tanaman obat yang terdapat di Asia.

Dari jumlah tersebut, Emil mengatakan, 25 persen diantaranya 7.500 jenis sudah diketahui khasiat herbal atau tanaman obat. Namun, hanya 1.200 jenis tanaman yang sudah dimanfaatkan untuk bahan baku obat-obatan herbal. 

“Jatim mempunyai potensi 27,3  persen usaha mikro obat tradisional (UMOT) dari nasional. Oleh sebab itu, faskes, baik itu rumah sakit dan lembaga pendidikan kesehatan cukup memadai. Sehingga ini menjadi aset bagi Jatim untuk menjadi pendorong dari pengembangan industri,” jelasnya. 

Dikatakan Emil, peran Pemprov Jatim yakni perizinan hingga pembinaannya telah dipikirkan. “Kami rasa Perda (Perlindungan Obat Tradisional) ini akan menjawab keberpihakan terhadap industri obat tradisional,” ujar Emil.

Pihaknya juga mengharapkan obat herbal bisa mengisi tempat dibandingkan obat kimia. Cuma, bagaimana caranya supaya standar tata laksana medis ini bisa dijawab dengan herbal. 

“Nah, ini makanya peran semua pihak juga sangat dibutuhkan. Termasuk praktisi kesehatan agar bisa memaksimalkannya,” jelasnya.

Emil menyebutkan, selama ini herbal dianggap sebagai suplemen, bukan sebagai obat. “Inilah yang perlu kita ubah paradigmanya. Bahwa sebenarnya tidak selalu dokter harus memberi resep obat kimia. Kita mengharapkan ini bisa berkembang,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.