Sri Untari Dorong Literasi Aksara Jawa untuk Guru di Malang
SR, Malang – Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, mengajak para guru bahasa Jawa se-Kabupaten Malang untuk bangkit memperkuat literasi aksara Nusantara guna menjaga jati diri bangsa.
Langkah ini diambil melalui acara Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa bertajuk “Menjaga Warisan, Merawat Identitas” yang digelar di Kepanjen, Sabtu (5/9/2026).
Upaya ini difokuskan untuk menjawab tantangan serius di tingkat pendidikan daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal yang mulai tergerus arus modernisasi.
Fenomena memprihatinkan muncul di dunia pendidikan di mana para siswa sering menganggap aksara Jawa sebagai ‘monster’ karena dinilai terlalu rumit, penuh aturan, dan sulit dipelajari.
Stigma negatif ini diperparah dengan kendala teknis di sekolah, seperti minimnya alokasi waktu pembelajaran yang rata-rata hanya dua jam per minggu, serta banyaknya guru pengampu yang berasal dari latar belakang lintas ilmu seperti Fisika atau Olahraga.
Kondisi tersebut menciptakan jarak psikologis yang lebar antara generasi muda dengan warisan leluhurnya sendiri.
Dalam pemaparannya sebagai keynote speaker, Sri Untari menekankan pentingnya menjaga bahasa dan aksara sebagai pilar kekuatan peradaban sebuah bangsa. Beliau menegaskan bahwa aksara bukan sekadar simbol komunikasi, melainkan identitas mutlak yang harus terus dihidupkan dalam keseharian.

“Bahasa dan aksara Jawa adalah kekuatan dan jati diri kita. Ini bukan berarti menafikan bahasa Indonesia, melainkan menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” tegas Sri Untari di hadapan para pendidik. “Aksara dan bahasa adalah bukti tingginya peradaban sebuah bangsa,”tambah politisi dari PDI Perjuangan itu.
Sebagai solusi konkret untuk menghapus stigma ‘monster’, Sri Untari bersama Paguyuban Aksara Jawa yang dipimpin Taufik Monyong memperkenalkan media pembelajaran inovatif berupa kartu edukatif.
Alat peraga yang diadaptasi dari konsep permainan kartu ini dirancang agar siswa dapat mengenal aksara dan angka Jawa melalui metode yang interaktif, komunikatif, dan menyenangkan.
Inovasi ini diharapkan mampu mengubah cara interaksi siswa sehingga mereka tidak lagi merasa asing, melainkan memiliki ketertarikan untuk menggunakan warisan budaya tersebut.
Ketua Komisi E DPRD Jatim ini mengajak para pendidik bercermin pada keberhasilan negara-negara maju yang tetap teguh mempertahankan aksara lokal mereka di tengah derasnya globalisasi.
Untari mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Rusia, Thailand, hingga India yang terbukti mampu menyandingkan kemajuan teknologi dengan identitas budaya yang kuat.
Menurutnya, modernisasi dan perkembangan teknologi informasi seharusnya tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk meninggalkan akar budaya asli mereka.

Di sisi lain, para guru bahasa Jawa yang hadir menyuarakan perlunya penguatan kapasitas melalui wadah resmi sebagai bentuk dukungan keberlanjutan. Mereka mendesak agar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa segera dihidupkan kembali sebagai ruang utama untuk berbagi strategi pembelajaran yang lebih relevan dengan karakter peserta didik saat ini.
Selain itu, muncul usulan penyelenggaraan pentas seni budaya berbasis bahasa Jawa secara rutin di setiap kecamatan guna menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap identitasnya.
Pelestarian aksara Jawa melalui ruang kelas dipandang memiliki posisi strategis untuk memastikan warisan ini tidak hanya berhenti sebagai peninggalan sejarah.
Sri Untari pun berkomitmen untuk bertindak sebagai fasilitator guna mendorong media pembelajaran inovatif berbasis kartu ini agar dapat resmi masuk ke dalam kurikulum sekolah di Jawa Timur.
Dengan pendekatan yang lebih gembira dan interaktif, aksara Jawa memiliki peluang besar untuk kembali menjadi bagian hidup yang dekat dengan kehidupan generasi masa depan. (*/js/red)
Tags: aksara jawa kuna, Dprd jatim, guru sma, malang, pdip, sosialisasi, sri untari, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





