Bikin Merinding dan Haru, Penonton Surabaya Puji Visualisasi “Laut Bercerita”

Rudy Hartono - 26 October 2026
Suasana pemutaran Film Laut Bercerita di TP 1 Surabaya, Sabtu (24/10/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya — Pemutaran perdana film “Laut Bercerita” yang digelar di XXI Tunjungan Plaza 1 Surabaya pada Sabtu (24/10/2026) sukses  menyulut reaksi emosional mendalam dari para penonton.

Penayangan adaptasi layar lebar tersebut tak hanya menghadirkan pengalaman visual yang menguras emosi. Namun juga membangkitkan empati publik terhadap nasib para aktivis dan keluarga korban tragedi penghilangan paksa di masa lalu. Riuh tepuk tangan pun terdengar ketika film berakhir.

Salah satunya dirasakan Nur Rizky Amania (28). Perwakilan Gusdurian Pasuruan itu mengungkapkan rasa haru dan tangisnya bercampur usai menonton film itu. Membayangkan keberadaannya saat ini adalah buah dari pengorbanan para pejuang kebebasan di masa lalu.

 

“Sampai sekarang rasanya kayak kosong gitu, sedih. Aku merasa aku ada di sini karena mereka, kayak mengenang orang-orang yang berjasa dan membuat hari ini aku masih menikmati kehidupan,” ujar Nur Rizky sambil menahan tangis usai pemutaran film.

Salah satu penonton film Laut Bercerita, Nur Rizky Amania (28). Perwakilan Gusdurian Pasuruan. (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Ia secara khusus mengagumi hasil adaptasi sinematik ini dan menyampaikan apresiasi langsung kepada penulis novel serta tim produksi.

“Ratingnya 1000/10. Terima kasih untuk Mbak Leila yang sudah menulis ini dan tim produksinya, terima kasih untuk semua orang yang sudah memvisualkan apa yang saya baca di buku Laut Bercerita dengan begitu baik,” tuturnya.

“Ketika Mas Biru Laut melihat sang pengkhianat, itu sih yang masih terekam jelas bagaimana Mas Biru Laut menatap dia,” ungkap Nur Rizky saat mengenang adegan favoritnya.

 

Ia pun menegaskan pentingnya masyarakat luas menyaksikan film berlatar era ’90-an ini agar tidak terjebak pada narasi tunggal sejarah resmi.

“Harus ditonton, biar kita mengenang bahwa sejarah yang dibuat oleh pemenang itu bukan sejarah yang sesungguhnya. Orang-orang semua harus tahu bahwa ada sejarah lain yang tidak bisa ditulis, makanya perlu menonton film Laut Bercerita ini,” tegasnya.

Respons serupa disampaikan oleh penonton lainnya, Rakryan Laksmi Shri Nareshwari (21). Ia mengaku perasaannya campur aduk seusai menyaksikan film tersebut. Sebagai pembaca novel “Laut Bercerita” , menurutnya versi film berhasil menghidupkan karakter-karakter fiksi menjadi sosok manusia nyata.

Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), Dandik Katjasungkana di sela penayangan spesial film “Laut Bercerita” di Tunjungan Plaza XXI Surabaya, Sabtu (24/10/2026)

“Jujur aku ngerasa cukup campur aduk sih, sebelumnya aku udah pernah baca bukunya emang. Setelah nonton filmnya itu ada rasa-rasa bahwa tokoh-tokoh yang kita lihat di film itu nggak sebatas tokoh, bisa ngerasain kalau emang mereka itu manusia asli yang mengalami hal-hal itu di masa lalu,” jelasnya.

Pengalaman menonton tersebut pun, langsung menggugah rasa empati yang kuat di dalam dirinya terhadap realitas yang dihadapi keluarga korban.

 

“Menonton itu tadi membuat saya merasa ada empati terhadap keluarga, terhadap apa yang mungkin mereka alami. Kita nggak ada yang tahu apa yang mereka lalui, apa yang mereka tahu tentang kebenaran di balik ini semua, dan apa yang keluarga mereka rasakan,” kata Laksmi.

Mahasiswi Unair itu pun menilai Laut Bercerita sangat krusial untuk dipelajari oleh generasi muda di tengah dinamika politik masa kini. Bukan hanya sebagai pembelajaran masa lalu. Melainkan juga mengasah kepekaan pada situasi politik kedepan.

Produser dan aktor film Laut Bercerita berfoto dengan penonton di surabaya, Sabtu (224/10/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

“Menurutku untuk generasi-generasi muda sangat penting dan film ini sangat relevan untuk dipelajari lebih lanjut sebagai pembelajaran tentang apa yang sudah terjadi di masa lalu, dan mungkin saja terjadi di masa depan kalau misalnya kita tidak cukup peka terhadap hal itu,” tutur Laksmi.

Adapun, acara pemutaran khusus ini turut dihadiri oleh berbagai pihak penting. Mulai dari perwakilan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), produser film, hingga jajaran pemeran utama.

Di antara jajaran aktor yang hadir menyapa penonton Surabaya yakni Yoga Pratama yang memerankan karakter Arifin Bramantyo (Bram), serta Afrian Arisandy yang membawakan peran Gala Pranaya. (hk/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.