Bekal Orang Tua Hadapi Masa Pubertas Anak Berkebutuhan Khusus
SR, Surabaya – Memasuki masa remaja hingga dewasa merupakan fase yang penuh perubahan bagi setiap anak, termasuk anak dengan disabilitas intelektual. Selain mengalami perubahan fisik akibat pubertas, mereka juga mulai belajar memahami emosi, membangun hubungan sosial, serta mengenal tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, proses ini sering kali membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pendampingan yang lebih intensif dibandingkan anak seusianya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tujuan utama pendampingan bagi penyandang disabilitas bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membantu mereka mencapai kualitas hidup yang baik, mampu berpartisipasi di masyarakat, dan hidup semandiri mungkin sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Oleh karena itu, ketika anak mulai beranjak dewasa, orang tua perlu menyesuaikan pola pengasuhan agar tidak lagi berfokus pada apa yang belum bisa dilakukan, melainkan pada keterampilan yang akan membantu mereka menjalani kehidupan di masa depan.
Salah satu keterampilan yang penting untuk dilatih adalah kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Orang tua dapat mulai memberikan kesempatan kepada anak untuk mengurus kebutuhan pribadinya, seperti mandi, berpakaian, menyiapkan makanan sederhana, atau mengelola uang saku.
Para ahli menyarankan agar setiap keterampilan diajarkan secara bertahap, dimulai dari langkah-langkah sederhana dan diulang secara konsisten hingga menjadi kebiasaan. Cara ini membantu anak memahami setiap proses tanpa merasa terbebani, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri ketika berhasil melakukannya sendiri.
Selain keterampilan hidup, perubahan emosi pada masa pubertas juga perlu mendapat perhatian. Sama seperti remaja lainnya, anak dengan disabilitas intelektual mengalami perubahan hormon, mulai tertarik pada pertemanan maupun lawan jenis, serta berusaha memahami identitas dirinya.
Perbedaannya, mereka sering kali membutuhkan penjelasan yang lebih sederhana mengenai perubahan tubuh dan cara mengelola emosi. Karena itu, orang tua dianjurkan membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman bertanya dan menyampaikan apa yang dirasakannya.
Pendidikan mengenai kesehatan reproduksi juga tidak kalah penting. Banyak orang tua menganggap topik ini terlalu sensitif untuk dibahas, padahal penelitian menunjukkan bahwa individu dengan disabilitas intelektual memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekerasan atau eksploitasi seksual apabila tidak memahami batasan diri.
Orang tua dapat mulai mengenalkan bagian tubuh pribadi, mengajarkan bahwa tidak semua orang boleh menyentuh tubuh mereka, serta melatih anak untuk berani mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Edukasi ini sebaiknya diberikan secara bertahap menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Di sisi lain, setiap anak juga memiliki potensi yang layak dikembangkan. Tugas orang tua adalah mengenali minat tersebut sejak dini, memberikan kesempatan untuk terus berlatih, dan mengapresiasi setiap perkembangan yang dicapai. Dukungan sederhana seperti pujian atau kesempatan mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minatnya dapat menjadi dorongan besar bagi kepercayaan diri anak.
Kemampuan bersosialisasi juga menjadi bekal penting ketika anak memasuki usia dewasa. Mengajarkan cara menyapa orang lain, meminta bantuan dengan sopan, bekerja sama, atau menghargai pendapat orang lain akan membantu mereka beradaptasi di lingkungan sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat.
Selain itu, melibatkan anak dalam keputusan sederhana seperti memilih pakaian, menentukan aktivitas akhir pekan, atau menyampaikan pendapat tentang suatu hal, dapat melatih kemampuan mengambil keputusan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Pada akhirnya, masa dewasa bukanlah akhir dari proses belajar bagi anak dengan disabilitas intelektual. Justru pada fase inilah mereka mulai mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Dengan pendampingan yang penuh kesabaran, kesempatan untuk mencoba, serta lingkungan yang menerima, setiap anak memiliki peluang untuk terus berkembang dan mengambil peran di tengah masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (*/dv/red)
Tags: ABK, disabilitas, pubertas, superradio.id, usia remaja
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





