Banyak Siswa Disabilitas Putus Sekolah, Minim Guru Terlatih Hadapi ABK
SR, Surabaya – Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Namun bagi anak-anak dengan disabilitas di Indonesia, hak itu masih sering menjadi kemewahan —bukan sesuatu yang otomatis mereka terima.
Tantangan demi tantangan masih membentang di depan mereka, mulai dari infrastruktur sekolah yang tidak ramah hingga minimnya guru yang terlatih menghadapi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Laman www.unicef.org mengutip data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018 bahwa hampir 30 persen anak disabilitas di Indonesia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sebagian lainnya putus sekolah sebelum menyelesaikan jenjang dasarnya. “Masalah ini tidak hanya soal akses fisik, tapi juga tentang sikap dan cara pandang masyarakat terhadap disabilitas,” paparnya.
Dalam laporannya, UNICEF Indonesia menyebut bahwa pendidikan inklusif membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, dari kebijakan hingga pelaksanaan di lapangan. Sekolah perlu memiliki fasilitas fisik yang dapat diakses semua anak, seperti jalur landai dan toilet ramah disabilitas.
Guru juga harus dibekali pelatihan untuk mengajar di ruang kelas yang majemuk. Pendidikan bukan hanya tentang membaca dan menulis. Ia juga tentang membentuk rasa percaya diri, kemandirian, dan kesempatan yang setara. Jika anak disabilitas terus tertinggal, maka kita kehilangan potensi besar dalam generasi masa depan.
Inklusivitas dalam pendidikan tidak akan terjadi begitu saja. Ia butuh niat, butuh perubahan, dan yang terpenting butuh komitmen dari semua pihak. Karena pendidikan yang baik bukan hanya yang terbuka untuk semua, tapi juga yang siap menerima semua. (*/dv/red)
Tags: disabilitas, Inklusif, sekolah, superradio.id, unicef
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





