Apa Itu Fetish? Berikut Penjelasannya

Yovie Wicaksono - 2 August 2020
Ilustrasi. Foto: (Unsplash)

SR, Surabaya – Beberapa hari terakhir, istilah fetish sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Namun masih banyak masyarakat yang merasa asing dengan kata fetish itu sendiri.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Happy Cahaya Mulya mengatakan, fetish merupakan perilaku seseorang untuk memunculkan hasrat atau fantasi seksual dari hal yang tidak biasa dengan melibatkan benda-benda seperti sepatu atau stocking, maupun bagian tubuh non-genital seperti tangan atau kaki yang sering kali gairah itu muncul tanpa adanya stimulus lainnya.

“Hal ini baru bisa dikatakan gangguan ketika membuat distress terhadap diri sendiri atau merugikan orang lain yang sering kali disebut fetishistic disorder,” ujar Happy, Sabtu (1/8/2020).

Ia menegaskan, fetishistic disorder sendiri termasuk dalam kategori paraphilic disorder, yaitu gangguan seksual dimana seseorang dapat memunculkan hasrat ataupun fantasi seksual dari hal-hal atau situasi yang tidak biasa maupun tidak sesuai dengan norma, yang mana hal ini menyebabkan orang tersebut mengalami distress dan merugikan orang lain.

Adapun dalam kategori paraphilic disorder ini ada beberapa jenis gangguannya, yakni fetishistic disorder, sexual sadism disorder (dorongan seksual muncul dari mendominasi ataupun menyakiti), sexual masochism disorder (kebalikan sexual sadism disorder), exhibitionistic disorder (munculnya gairah sexual setelah menunjukan bagian genital pada orang asing atau orang yang tidak menginginkannya), dan lainnya.

“Penyebabnya masih belum benar-benar jelas, sejauh yang saya tahu belum ada penelitian yang mendapatkan bukti yang cukup terkait penyebabnya,” katanya.

Namun, lanjutnya, ada beberapa teori yang menjelaskan bahwa bisa jadi perilaku tersebut muncul karena adanya kecemasan dari seseorang untuk melakukan perilaku seksual secara normal sehingga ia mencari cara lain yang membuatnya tidak terlalu cemas. Ada juga yang menyatakan, hal itu terjadi karena seseorang mengasosiasikan benda atau situasi tersebut dengan hal-hal yang erotis.

“Misalnya, sering melihat perempuan mengenakan high heels. Bisa jadi orang tersebut mengasosiasikan high heels itu dengan perempuan tersebut nantinya, sehingga untuk membuat gairah muncul hanya membutuhkan high heels saja tanpa orangnya. Bisa jadi juga karena pernah melihat adegan atau situasi yang serupa dengan itu dan memancing gairahnya saat itu sehingga ia belajar bahwa situasi itu dapat memunculkan gairah,” katanya.

Namun, lanjutnya, tetap perlu mengetahui proses mental atau internal yang terjadi pada yang bersangkutan sehingga bisa memberikan kesimpulan secara tepat. Oleh karena itu, butuh proses asesmen lebih lanjut.

Secara umum, lanjut Happy, gangguan seksual ini lebih banyak dialami laki-laki daripada perempuan dan berdasarkan literatur yang ada mengatakan bahwa hal tersebut berkembang sejak usia anak-anak akhir atau remaja. Kemudian tergantung bagaimana perkembangan aspek seksualitasnya hingga masa dewasa seperti apa.

Happy menegaskan, fetish sendiri bisa disembuhkan, tetapi tergantung pada tingkat keparahan serta motivasi yang bersangkutan. Semakin parah dan semakin tidak kooperatif (kurang motivasi), maka akan semakin rendah kemungkinannya untuk membaik.

“Jika sudah merasa mengganggu, maka baiknya ke profesional, yakni psikiater atau psikolog. Dimana psikiater biasanya akan lebih bergerak ke ranah medisnya sedangkan psikolog akan bergerak di ranah kognitif atau pola berpikir dan pola perilakunya,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.