Akademisi Peringatkan Bahaya Sekat Sosial: Intoleransi Hambat Keberagaman

Rudy Hartono - 17 December 2025
Olivia (kiri) resmi menjadi orang ke 373 yang lulus ujian doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya,(foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya — Sidang doktoral terbuka di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair), Senin (15/12/2025) menghadirkan pernyataan tegas dari Dr Olivia mengenai persoalan intoleransi yang masih membayangi masyarakat Indonesia. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa praktik pengkotak-kotakan antar ras dan umat beragama menjadi akar dari sekat sosial yang sulit ditembus.

“Masyarakat kita itu terlalu mengkotak-kotakkan. Sehingga terciptanya sekat pembatas antara ras satu dan yang lain, kepercayaan satu dengan kepercayaan yang lain,” ujarnya.

Olivia, yang meneliti dinamika pemujaan Dewi Makco di Kelenteng Tjoe Tik Kiong, Pasuruan, menilai bahwa fenomena intoleransi tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga meresap dalam kehidupan sehari-hari komunitas minoritas.

Ia menegaskan bahwa pengakuan akademik terhadap praktik spiritual lokal menjadi salah satu cara untuk membuka ruang dialog dan mengikis stigma. “Ketika tradisi dipandang sah secara ilmiah, masyarakat lebih mudah menerima keberadaannya sebagai bagian dari kebudayaan nasional,” tambahnya.

Dalam sidang yang berlangsung di Ruang Adi Sukadana, Olivia memaparkan hasil etnografi yang menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa di Pasuruan masih menghadapi stereotip dan diskriminasi. Menurutnya, ritual pemujaan Dewi Makco sering dipandang eksklusif, padahal sebenarnya mengandung nilai solidaritas dan perlindungan bagi semua lapisan masyarakat. “Ritual ini bukan sekadar kepercayaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Olivia juga menyoroti peran negara dalam menciptakan ruang inklusif. Ia menyebut bahwa kebijakan administratif yang belum sepenuhnya mengakomodasi praktik spiritual minoritas memperkuat sekat sosial. “Ketika negara tidak memberi pengakuan penuh, masyarakat semakin merasa terpisah. Padahal pengakuan administratif adalah bentuk perlindungan hak sipil,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa intoleransi berbasis ras dan agama dapat menghambat pembangunan sosial. “Sekat-sekat ini membuat kita gagal melihat potensi kolaborasi lintas budaya. Padahal Indonesia dibangun dari keberagaman yang seharusnya menjadi kekuatan, bukan kelemahan,” tegas Olivia. Ia menekankan perlunya pendidikan inklusif yang menanamkan nilai kesetaraan sejak dini.

Sidang doktoral ini juga menjadi momentum bagi akademisi untuk menegaskan peran ilmu sosial dalam advokasi. Olivia menilai bahwa penelitian etnografi bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga sebagai alat advokasi bagi komunitas yang terpinggirkan. “Ilmu sosial harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang seminar. Penelitian harus memberi dampak nyata,” ujarnya.

Dengan pernyataan-pernyataan tersebut, sidang doktoral Olivia tidak hanya menambah khazanah akademik, tetapi juga membuka wacana publik tentang urgensi melawan intoleransi. Pesan yang ia sampaikan menegaskan bahwa pengakuan terhadap spiritualitas lokal adalah bagian dari perjuangan lebih luas untuk membangun Indonesia yang inklusif, adil, dan bebas dari sekat ras maupun agama. (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.