“Air Penyembuh” di Gua Maria Jatiningrum Banyuwangi

Yovie Wicaksono - 8 September 2021
Umat Katolik saat beribadah di Gua Maria Jatiningrum. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Banyuwangi – Sebagai kabupaten terbesar di Jawa Timur, Banyuwangi menyimpan sejuta pesona yang luar biasa, terlebih potensi wisata yang menjadi unggulannya.

Tak hanya wisata alam, daerah yang terletak dibagian ujung timur pulau Jawa ini juga memiliki tempat wisata rohani yang seringkali menjadi jujugan wisatawan, yakni Gua Maria Jatiningrum yang terletak di Dusun Curahjati, Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi bagian selatan.

Berada tak jauh dari Pantai Wisata Grajagan, jarak Gua Maria Jatiningrum dari Banyuwangi kota sekira 45 kilometer.

Gua ini lebih banyak dikenal masyarakat dengan nama Gua Maria Waluyaning Tiyang Sakit.

“Dulu namanya Gua Maria Waluyaning Tiyang Sakit artinya menyembuhkan orang yang sakit,” ujar penjaga Gua Maria Jatiningrum, Thomas Untung.

Penamaan itu bukan tanpa alasan, karena di dalam Gua Maria Jatiningrum ini terdapat air suci yang digunakan sebagai sarana berdoa para peziarah, sekaligus sarana kesembuhan orang yang sakit.

“Air itu kan juga lambang untuk mensucikan diri. Banyak masyarakat yang datang untuk mendapatkan air itu karena dipercaya bisa menyembuhkan orang yang sakit. Baik sakit jasmani maupun rohani,” imbuh pria yang sudah menjadi tenaga sukarela sejak 1990 ini.

Selain air suci juga terdapat Griya Semedhi, tempat untuk peziarah bersemedi atau adorasi, serta rumah singgah bagi peziarah yang ingin bermalam tanpa dipatok biaya sewa melainkan sukarela.

Yang menarik, di Gua Maria Jatiningrum ini ada Misa Kudus Jumat Kliwon yang dilaksanakan tiap malam Jumat Kliwon dengan dihadiri umat yang cukup banyak dari berbagai daerah. Namun, di tengah pandemi Covid-19, semua kegiatan di sana ditiadakan.

“Tiap Misa Jumat Kliwon dulu selalu penuh. Terutama dari Bali, Surabaya, Jakarta. Tapi pandemi ini tidak ada kegiatan, hanya ada beberapa orang yang berkunjung untuk berdoa, itupun hanya dari Banyuwangi dan jumlahnya sangat terbatas, mungkin hanya 5-6 orang,” katanya.

Untung mengatakan, para peziarah bukan hanya berasal dari umat Katolik saja, melainkan beragam umat agama mendatangi tempat ini. “Disini tidak memandang agama, tapi yang dipandang adalah sesama manusia,” tandasnya.

Salah satu pengunjung Gua Maria Jatiningrum dari Banyuwangi, Efi Yuliani mengaku cukup sering datang untuk berdoa. Ia mengatakan, sebenarnya berdoa dimana saja itu sama, hanya saja saat berdoa di Gua Maria Jatiningrum, ia merasa lebih tenang.

“Dan disini itukan dikenal Waluyaning Tiyang Sakit, jadi penyembuh orang sakit. Meski kita terlihat sehat kan kadang jiwa kita yang sakit itu disini bisa lebih fresh,” katanya.

Tak lupa, lepas berdoa ia selalu menyempatkan diri membawa air suci untuk dibawa pulang. “Memang boleh percaya atau tidak, itukan tergantung kepercayaan kita sendiri. Waktu itu ada keluarga yang sakit dan kita basuhkan dengan air itu Puji Tuhan bisa sembuh,” kata perempuan asli Lumajang ini. 

Sekadar informasi,  sejarah Gua Maria Jatiningrum sendiri, dimulai sekira tahun 1950an. Pastur Borggreve OCarm yang bertugas di Dusun Curahjati sebagai Pastor Paroki memiliki keinginan untuk menghormati Bunda Maria, kemudian bersama umat Katolik di Curahjati dirinya mengangkut bebatuan dari sungai untuk membangun Gua Maria ini. 

Pada 15 Agustus 1956, Uskup Malang pada masa itu, yaitu Mgr AEJ Albers OCarm, memberkati Gua ini sebagai tempat devosi kepada Bunda Maria bagi umat setempat dan paroki sekitarnya dengan nama Gua Maria Waluyaning Tiyang Sakit yang kemudian pada tahun 1995 berganti nama menjadi Gua Maria Jatiningrum. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.