Waspada Tikus Got, Penyakit Leptospirosis Mengintai di Musim Hujan

Yovie Wicaksono - 23 October 2024
Ilustrasi - Tikus bisa membawa penyakit leprospirosis.

SR, Surabaya – Penyakit leptospirosis menjadi salah satu yang harus diwaspadai saat musim hujan. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri leptospira yang menyebar melalui urin atau darah hewan yang terinfeksi. Diantaranya, tikus, sapi, anjing, kuda, dan babi.

Iklim tropis Indonesia yang panas dan lembab membuat bakteri leptospira bertahan hidup lebih lama. Beberapa bulan hingga tahun.

Kepala UGD RS Usada Sidoarjo, dr. Hermawan Putra mengatakan, penularan penyakit tersebut sangat mudah, yakni melalui air tanah. Terlebih di daerah rawan banjir. “Itu penularannya dari air lalu masuk ke pembuluh darah kita lewat kulit tangan yang tidak higienis lalu makan atau minum, terkontaminasi disitu,” ujarnya.

Hermawan menyebut, banjir menjadi perantara penularan yang sangat cepat.  Sebab bakteri akan masuk melalui kulit ke pembulu darah dan menginfeksi pasien. Selain itu pasien juga bisa terjangkit leptospirosis lewat makanan atau minuman yang tidak higienis dan terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri.

Gejala Leptospirosis juga cenderung samar seperti flu membuat pasien memerlukan pemerikaaan khusus. Di antaranya, ketika imun masih kuat, pasien akan mulai merasakan sakit kepala, muntah, diare, hingga demam. Namun di beberapa kasus berat, gejala leptospirosis bisa menyebabkan mata pasien merah, kekuningan pada kulit, hingga nyeri otot betis.”Leptospirosis, gejalanya sama seperti orang terkena virus dan bakteri, panas muntah. Ini harus diwaspadai,” tuturnya.

Kapan harus ke dokter? dr. Hermawan mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan kesehatan ke UGD jika mengalami gejala tersebut selama tiga hari. Hal ini untuk mempercepat penanganan sebelum terjadi komplikasi.

Gejalanya yang mirip flu membuat pasien harus melalui beberapa tes laboratorium. Mulai dari cek urine, darah, hingga swap tinja. “Tubuh kita punya reaksi dan respons pada virus itu di hari ketiga, jadi pemeriksaan laboratorium itu bagusnya di hari ketiga, nanti kita bisa periksa darah lengkapnya,” ucapnya.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Dr Herman  mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa hal guna mencegah resiko infeksi leptospirosis. Seperti mencuci tangan tiap sebelum makan dan sesudah melakukan aktivitas, tidak berendam di air danau, sungai, atau kubangan, hingga menjaga kebersihan lingkungan. “Harus cuci tangan dimanapun berada karena itu penularannya dari air,” tuturnya.

Sebagai informasi, jumlah kasus leprospirosis terus mengalami peningkatam tiap tahunnya. Data Kementerian Kesehatan periode Januari-Mei 2024 mencatat sebanyak 367 kasus leptospirosis dengan 42 kematian terjadi di 15 provinsi.

Dari data tersebut ada 3 provinsi dengan junlah kasus tertinggi yakni Jawa Tengah 198 kasus, DI Yogyakarta 82 kasus, dan Jawa Barat 24 kasus. Jumlah ini berpotensi meningkat utamanya di musim hujan.  (hk/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.