Uskup Surabaya: Tugas Gereja Beribadah Bukan Berpolitik

Rudy Hartono - 6 April 2026
Uskup Surabaya, Monsignor Agustinus Tri Budi Utomo di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (HKY), Minggu (5/4/2026) (net)

SR, Surabaya  – Di tengah perayaan Pekan Suci dan Trihari Suci Paskah 2026, Uskup Surabaya Monsignor Agustinus Tri Budi Utomo menegaskan tugas Gereja Katolik kepada seluruh umat di Keuskupan Surabaya.

“Tugas gereja yang pertama itu adalah beribadah. Tugas gereja itu bukan berpolitik,” ujar pria yang akrab disapa Mgr Didik dikutip Kompas.com dalam rangkain perayaan Paskah di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (HKY), Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa kedewasaan iman umat Katolik diukur dari sejauh mana mereka menjalankan lima tugas pokok gereja. Kelimanya itu berakar dari nilai spiritual dan kemanusiaan, bukan kepentingan politik belaka.

Lima tugas tersebut meliputi beribadah, mewartakan kebenaran yang bersumber dari Tuhan, membangun kesatuan dan kerukunan, melayani mereka yang berkekurangan, serta menjadi saksi hidup sebagai contoh kebaikan bagi sesama. “Itulah yang disebut dengan dewasa,” tegas Mgr Didik.

Pernyataan ini dinilai relevan di tengah situasi sosial-politik yang kerap menarik institusi keagamaan ke dalam pusaran kepentingan politik praktis. Mgr. Agustinus menekankan bahwa gereja harus tetap pada jalurnya, yaitu hadir untuk masyarakat, bukan untuk kekuasaan.

Dalam renungan Pekan Suci, ia juga mengajak umat untuk tidak larut dalam tekanan dan perpecahan, termasuk dari arus deras kritik di media sosial.

Selain itu, ia mengajak umat keluar dari hambatan yang kerap membuat seolah berhenti melangkah. Ia menggambarkan tantangan tersebut sebagai “batu besar yang menghalangi”, bisa berupa masalah, kesulitan hidup, hingga kritik dari berbagai pihak.

“Kita sering kali lalu menjadi seakan-akan mati karena masalah-masalah itu. Banyak hal salah dan dosa di tahun lalu yang membuat kita malu, yang membuat kita seakan-akan terbelenggu dengan masa lalu,” tuturnya.

Uskup menekankan bahwa Paskah hadir sebagai undangan untuk bangkit kembali. Seperti Yesus yang mengalahkan kematian, umat Kristiani yang dewasa dipanggil untuk tidak terus-menerus menatap cermin masa lalu atau larut dalam menyalahkan orang lain.

Menurutnya, umat yang dewasa imannya adalah mereka yang bersikap proaktif, mengampuni masa lalu, dan membawa damai ke lingkungan sekitarnya. Jauh dari sikap saling menyalahkan. “Kita tidak terus melihat spion masa lalu, lalu mengutuki, mencari siapa yang salah. Berproaktif, positif, berpengharapan ke depan. Itulah tanda kedewasaan,” jelasnya.

Kunci kebangkitan itu, lanjutnya, adalah pengampunan. Uskup mencontohkan bagaimana Yesus yang bangkit  tidak pernah sekalipun mengungkit kesalahan murid-muridnya di masa lalu. (*/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.