Ubaya Heritage Carnival Ramaikan HUT ke-74 Republik Indonesia

Yovie Wicaksono - 17 August 2019
Ubaya Heritage Carnival, di Surabaya, pada Sabtu (17/8/2019). Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Ribuan civitas akademika Universitas Surabaya (Ubaya) ramaikan semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia dengan kirab budaya melalui Ubaya Heritage Carnival yang digelar pada Sabtu (17/8/2019), pukul 09.00 – 11.00 WIB.

Selain memperingati Kemerdekaan Indonesia, Ubaya Heritage Carnival merupakan rangkaian penutup masa orientasi bersama (MOB) mahasiswa baru Ubaya tahun akademik 2019/2020. Acara yang bertajuk “Persembahan Untuk Indonesia” merupakan salah satu wujud terima kasih atas warisan budaya dan alam yang dimiliki oleh Indonesia. Disamping itu, Ubaya ingin mengedukasi mahasiswa baru sekaligus masyarakat Indonesia khususnya warga kota Surabaya untuk bersatu dan menjaga keberagaman budaya serta keseimbangan alam.

“Tujuan awalnya kami ingin mengajarkan kepada mahasiswa baru bagaimana mereka bisa bekerjasama dan berkreativitas untuk membuat satu kostum karnaval dengan menyatukan masing-masing ide anggota. Disini mereka akan memahami dan belajar menghargai perbedaan. Pemilihan karnaval sendiri merupakan metode yang kami gunakan untuk mengapresiasi keberagaman dan melestarikan kembali warisan budaya asli Indonesia,” ujar Wakil Koordinator Acara MOB 2019, Igam Arya Wada.

Semua pertunjukan yang ditampilkan dalam Ubaya Heritage Carnival memiliki sub tema culture dan nature yang dibagi ke dalam enam defile (kelompok) yang melibatkan ribuan mahasiswa baru, yakni defile Borneo, defile Bali, defile Betawi, defile Chinese Opera, defile Forest, dan defile Undersea.

Pemilihan defile Chinnese Opera diantara defile-defile Indonesia ingin merepresentasikan akulturasi dan menunjukkan kepada mahasiswa baru bahwa Ubaya merupakan kampus multikultur. Sedangkan defile dengan sub tema nature diwakili oleh defile Forest dan defile Undersea. Pemilihan defile ini, diambil dengan melihat kondisi alam Indonesia khususnya hutan dan laut yang mulai mengalami kerusakan.

“Penampilan yang kami bawakan memiliki nilai keberagaman, toleransi, dan cinta lingkungan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Nantinya akan ada campaign berupa theatrical dan poster yang dibuat oleh mahasiswa baru sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk mulai peduli, memperhatikan, dan menjaga kondisi alam di sekitar,” ujar Dosen Fakultas Hukum Ubaya ini.

Acara Ubaya Heritage Carnival dibuka dengan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh civitas akademika Ubaya menggunakan pakaian adat nusantara Indonesia. Berikutnya, acara dilanjutkan dengan beragam pertunjukan dari masing-masing defile seperti penampilan drama, tarian, yel-yel, dan peragaan kostum yang telah dibuat sendiri secara berkelompok oleh mahasiswa baru.

Selain penampilan mahasiswa baru, ada persembahan spesial yang ikut memeriahkan acara dalam Ubaya Heritage Carnival yaitu Marching Band dari SMK KAL-1 Surabaya yang menampilkan “Genderang Suling Gita Anjara Samudera”, atraksi Barongsai yang berjudul “Tarian Singa dan Naga Kesatria”, serta kolaborasi Baleganjur dan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu (UKKH) Ubaya.

Salah satu mahasiswa baru 2019, Nicolas Danang Kurniawan Nugroho dari Fakultas Psikologi Ubaya mengaku sangat antusias mengikuti acara penutupan MOB Ubaya. Pengalaman pertama mengikuti kirab budaya mengajarkannya arti menghargai warisan budaya Indonesia dan makna toleransi.

“Saya belajar banyak hal dari persiapan acara kirab budaya. Kostum Borneo yang kami buat semuanya handycraft menggunakan kain perca serta spons matrass dan proses pembuatannya sekitar lima sampai enam hari. Kami satu kelompok asalnya berbeda-beda, tapi saya menyadari bahwa perbedaan itu indah, saling melengkapi dan harusnya menjadi ciri khas asli bangsa Indonesia yang terus dipertahankan,” ucap Nicolas dari defile Borneo.

Euforia mahasiswa baru terlihat ketika mulai memperagakan kostum masing-masing defile yang dilakukan di sepanjang jalan Raya Tenggilis, jalan Panjang Jiwo, dan berakhir di Kampus Ubaya Tenggilis ini. Mahasiswa baru juga membawa poster campaign berupa ajakan untuk peduli terhadap alam dan menghargai keberagaman Indonesia.

Selain itu, sebanyak 250 wayang kertas Punakawan terbaik dari hasil pemecahan Rekor MURI yang dibuat oleh mahasiswa baru Ubaya dibagikan kepada penonton karnaval sebagai bentuk apresiasi budaya dan kenang-kenangan untuk warga.

“Aksi ini salah satu wujud yang ingin kami tunjukkan bahwa Ubaya merupakan Universitas yang menghargai perbedaan, multikultur, dan pluralisme. Saya berharap mahasiswa baru dan masyarakat bisa terdorong untuk melakukan tindakan atau perubahan yang lebih baik terhadap alam maupun warisan budaya Indonesia,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.