Tunggu Kejelasan Liga 1, Pemain Persik Tekuni Ternak Ikan Lele

Yovie Wicaksono - 19 October 2020
Yusuf Meilana Fuad Burhani. Foto : (Istimewa)

SR, Kediri – Disaat belum adanya kejelasan mengenai kapan Liga 1 akan mulai kembali digelar, pemain belakang muda potensial Persik Kediri Yusuf Meilana Fuad Burhani memilih membuka usaha sampingan untuk menambah pundi-pundi rupiah guna menopang  kebutuhan hidup keluarga. Usaha sampingan yang baru dilakoninya selama dua tahun ini berupa ternak ikan lele.

“Baru dua tahun ini saya coba peruntungan usaha pembibitan ternak lele. Alhamdulilah hasilnya lumayan, bisa mencukupi kebutuhan keluarga, mengingat bapak sudah tidak ada (meninggal),” ujar pemuda asal Dusun Susuhbango, Desa Karangnongko, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

Dari usaha rintisannya tersebut, setiap kali panen dalam kurun waktu dua sampai 2,5 bulan pemain berposisi sebagai bek kiri ini mengaku bisa mendapatkan omzet sekira 10 juta. Harga bibit lele yang dijual seukuran 5 sampai 6 centi meter dijual  1000 ekor seharga Rp 140 ribu.

“Sekali panen bersih sampai Rp 10 juta lebih, maksimal panen 2 sampai 2,5 bulan,” ujar pemain yang sudah empat musim membela Persik ini.

Anak pertama dari tiga bersaudara  itu mengaku jika semua perawatan usaha pembibitan lele ia lakukan sendiri selama dua tahun, tanpa bantuan orang lain.

Disaat pagi hari mulai 07.00 – 09.00 WIB, ia selalu sempatkan untuk memberi makan ikan lele sekaligus membersihkan kolam yang ada di belakang rumahnya.

Disaat pekerjaannya semua sudah selesai, sore harinya ia meninggalkan rumah bergabung bersama rekan setim untuk ikut latihan di Stadion Brawijaya Kediri.

“Semua soal pembibitan ikan lele saya kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Termasuk memberi makan ikan, hingga membersihkan kolam,” ujarnya.

Karena usaha kerasnya itu, kini jumlah ikan lele ternaknya terus bertambah, hingga mencapai kisaran 50 ribu ekor.  Pemuda yang akrab disapa Yusuf ini mengaku, sebelumnya, ia sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang pembibitan ikan lele. Ia baru tahu setelah diajari oleh temannya dikampung.

Setelah Persik juara Liga 3, bonus dan hadiah dari PSSI kemudian ia pergunakan untuk bikin kolam di belakang rumahnya. Ia masih ingat kalau itu, modal yang ia keluarkan untuk membangun 6 kolam sebesar Rp 13 juta. Selain biaya untuk membangun kolam, dana sebesar itu juga ia pergunakan untuk membeli bibit indukan ikan lele.

“Sudah komplit termasuk pembelian induk ikan lele,” ujarnya.

Selama dua tahun menjalankan ternak ikan lele, kendala yang dihadapinya saat ini adalah adanya peralihan musim. Jika menginjak musim hujan kadar suhu air kolam menjadi tidak stabil. Karena tergolong jenis ikannya masih kecil, maka dibutuhkan perawatan khusus terkait kondisi air yang harus  terus mengalir.

“Karena cuaca, mungkin kalau hujan seperti saat ini, PH air beda-beda naik turun itu yang paling susah. Kalau ikan lele kecil, air harus mengalir terus, itu susahnya. Jelas berdampak, kemungkinan  ikan yang ada di dalam kolam banyak yang mati,” katanya.

Guna menyiasati hal tersebut, agar ikan yang ada di dalam kolam tetap hidup, listrik pompa air  harus dibiarkan tetap menyala. Menurutnya jika ikan lele berusia sekitar satu minggu masih dibutuhkan perawatan  khusus, lain halnya jika sudah menginjak usia 3 minggu, baru dikatakan sudah memiliki ketahanan tubuh yang sangat bagus.

“Kalau usia masih satu minggu, itu yang paling rentan,” ucap Yusuf.

Yusuf mengaku, alasannya memilih ternak ikan lele karena ia menganggap usaha rintisan yang dilakoninya ini sangat prospek.  Terlebih usianya masih muda, yakni 22 tahun, keahlian yang dimilikinya itu ia pergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, apalahi Yusuf selama ini menjadi tulang punggung keluarganya, setelah ayahnya meninggal.

Kini ia harus menghidupi ibu dan dua orang adiknya yang masih sekolah di bangku Sekolah Dasar dan SMA.

“Bapak sudah nggak ada (meninggal), saya menjadi tulang punggung keluarga untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Yusuf.

Ia sadar jika profesinya sebagai pemain sepak bola tidak selamanya bisa diandalkan untuk mencari uang. Apalagi kondisi sekarang, di masa pandemi, mau tidak mau ia harus banting tulang menciptakan peluang lapangan kerja baru.

“Harus ada usaha lain, main sepak bola paling kuatnya 35 tahun sampai 40 tahun. Tidak mungkin kita mengandalkan dari sepak bola terus. Contohnya saat ini saja ada pandemi Liga 1 aja belum jelas, ya itu syukur Alhamdulilah ada usaha sampingan yaitu ternak lele,” katanya.

Selama empat musim membela Persik Kediri, Yusuf pernah merasakan suka dan duka. Diawal tahun 2017 saat itu ia resmi bergabung bersama Persik Kediri di Liga 2. Semusim kemudian, ia harus merasakan kenyataan pahit, dimana klub yang ia perkuat harus terdegradasi ke Liga 3. Satu musim kemudian, Persik bangkit berturut-turut  menjuarai Liga 3 dan Liga 2 hingga sekarang promosi ke Liga 1.

Yusuf menjelaskan alasanya empat musim bergabung bersama Persik, karena faktor kedekatan dengan tempat tinggalnya yang ada di Kabupaten Kediri. Disamping itu ia ingin membawa Persik Kediri juara, kembali promosi ke Liga 1 dan keinginannya itu akhirnya terwujud.

“Dekat dekat rumah aja, ayah sudah tidak ada,” ujar pemuda kelahiran 4 Mei 1998 ini.

Yusuf memulai karir profesionalnya di sepak bola bersama Persik Kediri. Ia saat itu diajak bergabung dari klub binaan sepak bola Indonesia Muda, oleh mantan Sekretaris Umum Persik Kediri mendiang Barnadi.

Yusuf kemudian menjalani seleksi dibawah arahan pelatih Dwi Priyo. Karena dirasa memiliki kemampuan mumpuni, ia kemudian direkrut bergabung bersama Septian Satria Bagaskara dan kawan-kawan.

Sebagai pemain, ia berharap, Liga 1 segera kembali diputar. Karena banyak sekali pemain yang mata pencahariannya bergantung dari sepak bola. “Kalau jadwal Liga 1 sudah jelas mungkin kita lebih bersemangat,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.